Wednesday, March 28, 2012

Design Dilemma

Saya ini orangnya minderan. Banget.

Saya tidak percaya diri dengan desain yang saya buat. Saya tidak kreatif. Ketika saya melihat desain teman-teman saya, nyali saya langsung ciut. Kenapa saya tidak terpikir konsep yang sungguh kreatif seperti mereka? Saya cenderung ikut2an. Realistis, tidak berani berimajinasi gila-gilaan. Terkungkung dalam suatu langgam  populer yang aman dan bisa dibangun.

Perilaku ini saya teruskan hingga sekarang ketika saya sudah bekerja. Saya cenderung membuat desain yang ‘ragu-ragu’. Saya ingin memberi sedikit inovasi, tapi takut ditanya klien tentang hal2 teknis pembuatan yang saya tidak mengerti. Saya ingin mendesain yang tidak mainstream, tetapi takut nanti saya tidak bisa menjelaskan apa maksud dari desain saya, yang ujung2nya ditertawakan bos karena desain ngawur. Sesekali pernah saya begitu percaya diri mendesain, bos juga sudah setuju, namun ketika saya membaca-baca literatur desain saya menyadari bahwa desain saya itu biasa banget. Tidak istimewa. Standar.

Mengutip prinsip Apple dan Henry Ford, “Customer have no idea what they want.” Harusnya saya bisa menggali apa yang dimau klien. Harusnya saya bisa mendevelop ide dari kepribadian dan keinginan mereka. Harusnya saya bisa meyakinkan klien bahwa saya adalah desainer yang mampu menjembatani keinginan dengan kepribadian (atau anggaran) mereka. Bahwa saya sudah sekolah desain bertahun-tahun, percayalah bahwa saya mengerti taste desain.

Sayangnya seringkali saya menggantungkan pada klien. Saya memang menggali maunya mereka, kepribadian mereka, selera mereka. Namun saya keenakan di sana. Saya malas men-develop sesuatu yg baru dari situ. Saya sudah cukup senang bisa bertemu mereka. Saya hanya senang mendengar cerita mereka. Ketika saya disuruh mendesain, saya malah bingung. Saya mendesain sekenanya. Tidak ada inovasi, gambar pun sederhana dan berkesan tidak fokus. Ralat, memang tidak fokus.

Saya sadar, saya tidak boleh terus2an begini. Ini namanya malas. Saya sudah diberi nikmat berupa mampu beli modem, kerja di kantor yang punya segudang buku literatur, harusnya saya bisa memanfaatkan itu semua. Saya harus belajar. Saya menyadari bahwa kelemahan saya yang susah fokus ini menjadi kendala saya rajin belajar. Saya mudah terdistraksi berbagai hal ketika belajar. Namun untuk menjadi orang dewasa yang profesional, sudah selayaknya saya mampu menetapkan skala prioritas, menentukan mana yang penting dan tidak penting, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak. Ini adalah titik awal saya dalam memulai karier profesional di bidang industri kreatif. Saya mulai mencari koneksi, membuat nama dan statement. Saya tidak boleh lagi manja dan menggantungkan dari pemikiran mereka bahwa mereka akan maklum pada saya yang masih muda. Sudah seharusnya saya membuktikan pada mereka bahwa meskipun masih muda saya sudah bisa membuat suatu terobosan yang nantinya bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Saya tidak mau dipermalukan lagi di ruang meeting karena desain saya yang tidak kuat dan cenderung ngawur. Saya harus mampu meyakinkan klien bahwa desain saya ini sesuai dengan identitas mereka. Hmph klise banget yak endingnya, tapi yah, memang belajar itu dimulai sejak lahir hingga liang lahat kan.

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...