Monday, December 31, 2018

Selamat Tahun Baru 2019!

Sebentar lagi tahun 2018 akan berakhir. Sejujurnya nggak ada yang lebih berkesan selain akhirnya tinggal serumah dengan suami, setelah sebelumnya long distance marriage (saya di Surabaya, suami di Malang. Not that long distance, but still hard for a married couple). Sungguh sebuah pengalaman baru, setelah bertahun-tahun hidup ngekos merantau sendirian (literally nggak berteman dengan siapapun di kos :P).

Anyway, tulisan ini bukan tentang kehidupan pernikahan saya. Saya ingin menceritakan tentang resolusi saya tahun 2018. Dulu saya menganggap resolusi itu nggak penting. Mungkin karena dulu memang willpower saya rendah, soalnya sudah disibukkan pekerjaan yang kala dulu masih sangat sibuk. Tidak ada pemikiran untuk memikirkan hal lain selain kerja dan bertahan hidup di ibukota. Namun kini setelah saya makin dewasa dan punya banyak waktu karena pekerjaan yang cukup longgar, saya memandang perlu untuk menentukan resolusi agar hidup saya tetap nggak datar-datar aja di karier yang kini sedang datar XD

Resolusi saya tahun 2018 cuma 2, yaitu sebagai berikut (duh kayak skripsi) :

1. Membaca

Membaca adalah hobi original saya yang selalu saya sebutkan setiap ditanya apa hobi saya semenjak saya bisa membaca. Sejak kecil saya suka membaca apapun, mulai dari tabloid sampe katalog MLM. Buat saya membaca adalah kegiatan untuk belajar sekaligus pelarian dari dunia dan orang-orang yang sering ngajak ngobrol (kalo dipikir-pikir emang saya anaknya pemalu & pendiam dari dulu, percaya nggak?). Sampai SMA saya masih suka membaca novel-novel tebal. Dalam seminggu mungkin 2-3 kali saya main ke perpustakaan kota sepulang sekolah. Namun setelah memasuki dunia perkuliahan yang tugasnya bejibun, saya mulai jarang membaca. Apalagi ketika kerja, hampir tidak ada waktu untuk membaca. Kalo ada waktu mending saya gunakan untuk tidur atau nonton drama. Makanya saya kangen dengan hobi ini, mumpung sekarang saya punya banyak waktu. Selain itu saya merasa semakin beranjak tua saya makin susah fokus, soalnya sudah terbiasa dengan distraksi teknologi. Saya pernah nonton di sebuah TED bahwa membaca adalah salah satu metode untuk melatih fokus. Oke, sepertinya memang saya perlu untuk menumbuhkan minat baca lagi.

Saya nggak menetapkan target berapa buku sih, karena saya nggak pede menetapkan target, abis udah lama banget nggak membaca, jadi udah ngga bisa mengira-ngira tempo lagi (for the record, I am a fast reader. I scan & skim pretty quickly. Maybe this is why I can't focus, since I only grab the main point of the text). Saya juga ngga menetapkan target harus membaca buku jenis apa dengan topik apa, makanya ngga sampe bikin account ataupun baca Goodreads (mungkin saya emang setengah-setengah niatnya haha). I just read whatever interesting in store to read. Nggak termasuk buku TTS ya, kalo ini sih hampir setiap hari ngisi :D

Jadilah, saya membeli beberapa buku tahun ini. Kok ya kebetulan tahun ini saya sempat berkali-kali ke Big Bad Wolf, jadi lumayan menambah koleksi buku saya. Selain itu saya juga diberi beberapa buku bacaan oleh mertua saya yang seorang dosen, jadi ada beberapa materi kuliah dan buku yang beliau tulis yang bisa saya baca.



barbuk BBW

Hasilnya? Dalam setahun ini saya membaca kira-kira 10 buku, kebanyakan memang buku non fiksi. Sejujurnya saya mulai kurang tertarik dengan fiksi, karena tidak relatable dan menurut saya jarang ada pelajaran atau ilmu yang bisa dipetik. Tahun ini hanya membaca 1 fiksi karya Chuck Palahniuk berjudul Make Something Up yang berisi kumpulan cerpen. Cerpen-cerpen ini memang keren-keren, bahkan menurut saya masing-masing cerpennya bisa dibuat film.

Make Something Up: Stories You Can't Unread by Chuck Palahniuk

Buku yang paling berkesan tahun ini bagi saya adalah Battle Hymn of the Tiger Mother. Saya tahu ini buku lama, dulu sempat heboh dibahas di berbagai media barat karena metode parentingnya yang dirasa terlalu keras bagi orangtua barat. Saya baru membaca buku ini sekarang karena ya dikasih oleh mertua, selain itu juga saya sudah di masa untuk sudah layak punya anak, tapi belum kepingin haha. Ternyata memang benar, apa yang diceritakan buku ini sungguh mengubah perspektif saya tentang parenting. Bahwa semua orangtua ingin anaknya sukses, tapi bisakah kamu bertahan dengan metode disiplin luar biasa, hampir bisa dikatakan berperang dengan anak kita? Kalau kata anak si Tiger Mom ini, buku ini sebenarnya what NOT to do about parenting. Gara-gara buku ini saya jadi mikir, kalau nanti punya anak mau dibesarkan dengan bagaimana? Helicopter parenting atau tiger parenting? Makanya saya belum percaya diri untuk berkembang biak hehehe.


Battle Hymn of the Tiger Mother by Amy Chua


Selain itu, beberapa buku karya Quraish Shihab juga saya lahap, karena saya lelah membaca konflik sesama Islam di media sosial. Saya sudah makin skeptis sama berbagai ustad baru yang lebih mirip dibilang motivator daripada ustad. Kebetulan mertua saya fans berat beliau dan punya banyak bukunya, jadi saya pinjam untuk saya baca. Beberapa buku yang saya baca antara lain berjudul Jilbab, Perempuan, serta 101 Soal Perempuan. Alhamdulillah tulisan beliau yang didasarkan asbabun nuzul, sejarah, dan kajian tafsir mendalam sungguh menyejukkan dan membuka mata saya.


Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah oleh M. Quraish Shihab

Speaking of BBW, di rak saya masih ada beberapa buku hasil BBW yang belum terjamah. Ternyata memang gara-gara saya nggak menetapkan target jumlah bacaan, akhirnya ya jadi nggak maksimal effort membacanya. Kalah sama rasa malas. Tapi memang ketika saya coba paksa membaca just for the sake of checking the box, saya jadi nggak meresapi makna buku tersebut. Kata demi kata hanya berlalu, seolah saya sedang belajar membaca. Saya jadi ingin cepat-cepat menyelesaikan buku tersebut tanpa sepenuhnya memahami substansi buku tersebut. Inilah sisi negatif dari memaksakan target jumlah bacaan.

Memang tahun ini ternyata saya tidak terlalu banyak membaca, tapi setidaknya kecintaan terhadap buku telah kembali. Mungkin saya akan meneruskan target membaca ini hingga tahun depan, supaya daya fokus saya kian terasah. Lagipula saya masih rutin naik komuter tiap pulang pergi, there's no excuse to not read.



2. Be Kind


Apakah saya sejahat itu sampe be kind aja perlu jadi resolusi??

Bukan gitu sih, lebih tepatnya mungkin open up. Selama ini saya cenderung jutek kalo di tempat umum. Minding my own business & i will never care of anyone's business. Anti sosial. Makanya saya ingin tahun 2018 ini agar lebih ramah, make new friends di luar zona nyaman saya. Resolusi ini lebih mudah tercapai karena setiap hari saya naik kereta setip pulang pergi kantor, jadi selalu bertemu dengan orang lain. Saya nggak muluk-muluk harus be kind as in beramal atau gimana, cukup lebih banyak senyum, kurang-kurangin RBF (resting bitch face), dan kurangi juga frekuensi pake earphone agar saya terpaksa ngobrol dengan orang.

Resolusi make new friends juga secara alamiah tercapai karena tahun ini saya jualan susu kedelai. Saya membawa susu setiap berangkat ke kantor, jadi kadang ada teman-teman komuter yang beli, bahkan ada yang langganan. Dengan demikian saya jadi punya teman sekaligus menambah uang saku untuk transport sehari-hari. Tapiii dampak dari jualan ini adalah saya jadi jarang jalan kaki ke kantor. Biasanya setelah nyampe stasiun Gubeng saya jalan kaki ke kantor yang jaraknya kira-kira 1,7 km. Namun gara-gara membawa susu kedelai dingin saya jadi harus cepat-cepat sampe kantor agar segera naruh di kulkas. Selain itu kadang di angkot ada orang beli susu, sehingga cukup sayang untuk dilewatkan.

Jualan susu kedelai saya, freshly made everyday by my husband. Bisa delivery Surabaya & Sidoarjo lhoo :D

Dampak dari resolusi ini cukup bagus sih menurut saya, karena jadi ada rasa senang setiap saya membantu orang lain. Saya juga jadi lebih happy dan merasa berguna sebagai manusia. Definitely gonna continue this habit forever.


Friday, December 14, 2018

Menulis Lagi!


*bersihin sarang laba-laba*

Whew, long time no write! It feels good to come back to my blog, kayak reuni sama teman lama :)

Dulu sekitar tahun 2005-2015an ketika Instagram belum sepopuler sekarang, hobi yang dianggap ngetren adalah menulis alias ngeblog. Entah curhatan nyampah, ilmu pengetahuan, hingga sekedar esai ringan; punya blog dianggap sebagai suatu bukti kompetensi intelektual (dan kerennya) seseorang. Blogspot, WordPress, LiveJournal, dll menjadi platform utama, sebelum netizen jaman sekarang curhat di instastory atau bikin thread di Twitter. Saya pun dulu cukup suka menulis. Maklum, waktu itu masih masa sekolah, di mana kita masih sering berkutat dengan buku, diskusi, dan tugas yang mengharuskan kita menulis sesuatu. Secara tidak langsung otak kita terus-menerus dirangsang untuk berpikir dan menuangkannya dalam sebuah produk. Selain itu, berbagai dinamika masa muda yang saya lewati juga menjadi inspirasi saya dalam menulis. Beberapa tulisan saya juga pernah saya unggah di blog ini, selain sebagai platform abadi untuk saya, hal ini juga berfungsi untuk senantiasa mengingatkan saya agar jangan berhenti membaca dan menulis.

Namun faktanya, semakin banyaknya distraksi dalam kehidupan membuat saya (dan mungkin banyak orang juga) mulai tidak sempat menulis. Ketika Internet makin mudah dijangkau, justru saya menggunakannya untuk browsing macam-macam. Ketika Twitter booming saya masih sempat menulis, karena toh platform Twitter dirancang pada awalnya hanya untuk tulisan alias tweet. Namun ketika semua medsos berlomba-lomba menambah fitur, kita makin disibukkan oleh penggunaan fitur tersebut, membagikan apa yang mungkin nggak perlu banget untuk dibagikan. Apalagi ketika Instagram populer, hari-hari kita diisi oleh stalking gambar-gambar yang memang lebih mudah dan cepat menarik daripada tulisan. Kalau kata tokoh di sitcom Two Broke Girls dulu, Instagram is Twitter for people who can't read. Tapi kan ada caption? Let's be honest, berapa persen dari kita yang mencurahkan tulisan di caption? Saya juga yakin pasti ada aplikasi semacam caption generator untuk kata-kata mutiara.

Indera visual kita dirangsang sedemikian menariknya hingga kita lupa membaca. Buktinya? Lihat saja headline media massa online yang kian memprihatinkan karena saking noraknya. Gimana caranya agar judulnya sebombastis mungkin agarpembaca mengklik linknya. Namun, headline yang sedemikian bombastis ini justru menjadi pisau bermata dua, karena bukannya diklik dan dibaca, malah banyak orang yang asal komen di link atau postingannya tanpa membaca konten beritanya terlebih dahulu. Kita telah terbiasa dengan rangsangan visual cepat sehingga seolah tak ada waktu untuk benar-benar membaca isi artikel. Akibat makin rendahnya kesadaran membaca ini, berdampak pada menurunnya pula kualitas penulisan. Dulu saya jarang menemui orang yang menulis tidak mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekarang? Ada teman saya yang lulusan S2, bahkan dia masih terbalik antara penulisan di- yang dipisah ataupun digabung. Kadang saya heran kok bisa dia lulus tesisnya jika sebuku isinya salah penulisan semua.

Kegalauan saya akan menurunnya daya tulis ini menggugah saya untuk menulis kembali, menghidupkan blog saya yang mati suri ini. Saya tahu sih skill nulis saya juga nggak bagus-bagus amat, tapi minimal dengan terus menulis saya bisa makin mengasah skill. Saya targetkan minimal dalam seminggu ada 2 tulisan, entah sekadar tulisan pendek yang nyampah ataupun tulisan panjang serius.

Semoga bisa istiqomah!

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...