Pada tahun 2011 ketika saya lagi masa ribet skripsi dan
kebetulan juga lagi suka-sukanya band alternatif-pop rock-emo macem Panic! At the Disco
dkk, eh Paramore mengumumkan bahwa mereka mengadakan konser di DUA kota di
Indonesia, yaitu Bali dan Jakarta. Whoaah gembira sekali mendengar kabar
tersebut, karena saya memang ngefans banget sama band asal US ini semenjak
pertama kali nonton videoklip Emergency sekitar tahun 2007. Selain karena
lagunya yang enak-enak di tiap albumnya, saya juga suka sekali dengan sosok
Hayley Williams si vokalis imut dan cantik (dan rambutnya sungguh fabulous)
namun punya kekuatan vokal yang dahsyat dan aksi panggung yang keren. Nggak mau
nyesel karena nggak nonton konser Panic! At the Disco tahun 2010 sebelumnya,
saya meniatkan untuk nonton konser ini. Apalagi ini diadakan di dua kota,
tinggal pilih aja yang paling deket dan murah, yaitu Bali. Konsernya di GWK
pula, just imagine how amazing it is, a
rock concert among the high ‘rocks’ (pun intended). Namun ada satu hal yang
bikin saya ragu, yaitu konser ini diadakan pas bulan Ramadhan. Yyyep, imagine how weird was that, abis taraweh
trus jingkrak-jingkrak nonton konser -__-. Tapi yah, kapan lagi mereka ke
Bali?? Biarin deh berpuasa di Bali (yang mana mayoritas nggak puasa sehingga
godaan orang makan dan bule cakep sungguh menantang) asal bisa nonton Paramore live!
Masalah tiket konser masih bisa teratasi, kebetulan saya
masih punya sisa uang abis studi ekskursi ke Singapore-Malaysia beberapa bulan
sebelumnya. Cukup lah buat beli tiket seharga 500.000. Berikutnya adalah
masalah skripsi, karena kebetulan hari-hari itu adalah saatnya minta tanda
tangan dosbing untuk buku skripsi, sayang banget kalo kelewatan dosbing
gara-gara saya ke luar kota. Namun ini bisa diatasi dengan janjian dengan
dosbing, jadi ga bentrok. Kemudian masalah ketiga adalah nyari temen nonton,
karena garing banget kalo teriak-teriak sendirian. Syukurlah ada teman dekat
saya yang memang salah satu oknum yang mempengaruhi saya dengan musik jenis
ini, yaitu Dea. Kebetulan dia juga nekat mau nonton, padahal dia belum pernah
nonton konser sebelumnya. Oke sip deh, berdua kita sepakat mau nonton bareng ke
Bali. Yeay Paramore here we come!
Tiket online berhasil didapatkan Dea. Kami beli tiket
Festival B, yaitu yang di bagian belakang. Saya udah ngebriefing Dea sebelumnya
tentang gimana desek-desekannya kalo di depan, so mending lebih aman di belakang,
lebih murah 200.000 lagi, lumayan buat tiket travel. Kami berencana naik travel
ke sana, booking lancar. Si Dea yang belum pernah ke Bali sampai repot-repot
beli buku tour guide ke sana dan nyari akomodasi murah di mana. Haha saya emang
useless deh, niat banget si Dea ini. Thanks to her kita dapat akomodasi murah
di gang Poppies. Hm kalo dipikir2 saya nggak berkontribusi banyak sih di
perencanaan perjalanan trip ini ya, ha ha ha -_- (ampun Dex!)
Hari H-1 konser tiba, saatnya kami berangkat. Kami dijemput
oleh travel ke rumah masing-masing. Kami sama-sama bawa bekal buat buka puasa
dan sahur di jalan, buat jaga2 kalo makanan di rumah makan ntar kurang ato
gimana. Syukurlah perjalanan travel lancar, nyampe Bali jam 7an di mana jalanan
Legian masih sepi karena bule2 pasti masih pada hangover. Kami diantar pak
sopir travel ke gang poppies pesenan kami, lalu kami langsung menuju penginapan
yang kami incar sebelumnya di buku. Check in lancar, kami dapat kamar yang
sederhana namun bersih lah.
Setelah istirahat sebentar dan bersih diri kami memutuskan
untuk keliling-keliling menggunakan motor sebelum nanti sore meluncur ke GWK. Abis
mau gimana lagi, di Bali kan ga ada kendaraan umum. Di daerah tersebut banyak
persewaan kendaraan, tinggal pilih aja. Kami menyewa motor dengan biaya sewa
50.000 per hari dengan menjaminkan KTP saya. Karena dianggap saya lebih
berpengalaman nyetir motor dan lebih tahu Bali, maka saya didaulat menjadi juru
kemudi motor. Seru juga sih puter-puter naik motor, kami mampir ke Krisna untuk
beli oleh-oleh. Sempat juga ke Pantai Kuta (nggak sah ke Bali kalau belum ke
Pantai Kuta). Siang agak sorean kami langsung ke GWK, sukur-sukur ketemu mereka
lagi soundcheck hihi. Lagian Dea belum pernah ke GWK, jadi kami liat-liat GWK
dulu.
Pas masuk area GWK kami disambut oleh sound system kenceng
yang lagi nyetel Monster-nya Paramore. Awalnya kami kira ini semacam sound
system kayak di taman-taman hiburan gitu, namun setelah kami dengerin dengan
seksama barulah kami sadar, itu suara Paramore beneran lagi checksound!!!!!!!!!!!
Kyaaa girang banget dah kami dengerin spoiler alert gini, kami langsung heboh
nyari jalan yg ke arah lapangan tersebut, namun sayangnya pintunya dikunci dan
dijaga panitia security. Yah sayang banget, ga bisa intip-intip Hayley. Lalu
kami muter-muter aja di situ, kali-kali mereka kelar checksound lalu memutuskan
untuk muter-muter GWK, hahaha. Namun hingga senja kami nggak kunjung menemui
mereka. Ya sudahlah maka kami memutuskan untuk keluar GWK menuju pintu Lotus
Pond, yaitu pintu masuk arena konser.
Hari mulai gelap, karena tak
ada adzan di area tersebut maka saya ngarang2 aja buka puasa hahaha.
Satu persatu para penonton berdatangan. Kami memutuskan untuk registrasi aja
dulu biar nggak ngantri ntar. Eh lumayan, registrasi dan dapat poster keren,
sampe sekarang poster ini saya pajang di pintu lemari saya, sukses bikin
suasana kamar nggak gloomy :D.
Sekitar jam 7an pintu gate dibuka, kami pun
berbondong-bondong masuk. Kami agak heran juga, secara penontonnya nggak
terlalu banyak. Dan benar saja, ketika sampai di dalam venue, yaelah kosong
amat ini lapangan!! Paling yang keisi sekitar 20%. Jadi agak nyesel juga sih
kami, tau gini beli di Festival A aja, ternyata nggak berdesak-desakan. Konser
baru akan dimulai 1 jam kemudian, penonton juga terus berdatangan, namun
jumlahnya nggak signifikan. Panggung gede dan diapit batu-batu raksasa sungguh
makin menambah rasa kekosongan venue.
Sekitar jam 8an konser dimulai meskipun jumlah penonton
paling cuma 40-50%an dari keseluruhan kapasitas. Band pembuka yang diboyong
grup Paramore mulai maju ke tampil. Aduh saya lupa nama bandnya apa, hahahah,
tapi musiknya lumayan kok sebagai pemanasan. Sekitar 20-30 menitan mereka
bermain, lalu mereka undur diri untuk menyerahkan panggung kepada sang artis
utama. Whoaah makin panas lah suasana, bentar lagi jingkrak-jingkrak nonton
band favorit kami semua! Namun tunggu punya tunggu Paramore nggak kunjung
muncul, malah beberapa kru sibuk mbenerin alat di panggung. Hm kayaknya masih
maintenance teknis, yah jadi turnoff, nunggu lagi lama. Ada kalo kalo 30
menitan, ampe pada capek.
Kemudian setelah panggung mulai all clear, lampu menyala!
Dan OMG itu si Hayley lari-lari masuk panggung sambil bawa bendera Merah
Putih!!!!!!!!! Owaahh mereka juga menghormati kita karena kebetulan hari itu
memang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Wah emang si Hayley ini
imut2 namun sungguh enerjik dan ramah, begitu pun dengan sang bassist Jeremy
Davis dan gitaris Taylor York. Sayang momen ini agak pahit, mengingat beberapa
bulan sebelum mereka ke Indonesia sang gitaris dan drummer Farro bersaudara
memutuskan hengkang dari Paramore (padahal mereka kan ganteng dan skillful T_T).
Yah tapi mau gimana lagi, the show must
go on.
Lagu demi lagu dibawakan dengan full stamina, nggak ada
capek-capeknya deh mereka beraksi,lari ke sana kemari. Mereka juga ramah
banget, di sela-sela lagu menyempatkan menyapa penonton, having a little chit
chat, nunjuk-nunjuk kita dan aktif berkomunikasi. Padahal penonton nggak full
lho, tapi itu seolah nggak menyurutkan semangat mereka untuk menyuguhkan
performance terbaik.
Nggak semua lagu dibawakan dengan gahar, ada beberapa lagu
yang juga dikemas manis dengan suguhan akustik. Kami semua tetap semangat
singalong di tiap lagu. Saat lagu yang enerjik kami pun ikut berteriak dan
loncat-loncat, saat lagu yang manis kami pun ikut melambaikan tangan sambil
menyalakan hp..haha ini udah standar banget di tiap konser untuk melakukan
ritual seperti ini. Sepanjang lagu kami nggak henti-hentinya ikut bernyanyi,
loncat-loncat, meneriakkan nama personel masing-masing. Rasanya terharu banget
bisa menyaksikan mereka dengan live, karena sungguh penampilannya sangat
memukau. Apalagi ketika lagu Pressure di mana seperti di videoklipnya, Jeremy berguling
di punggung Taylor, otomatis teriakan KYAAAAAAAA menggetarkan seluruh venue
yang setengah kosong namun sangat hidup itu.
Sebagian besar lagu hits mulai dari album pertama yaitu All
We Know is Faling hingga album terbaru yaitu Brand New Eyes dan single
terbarunya dibawakan dengan sempurna. Ada satu hal yang agak saya sayangkan
sih, yaitu nomor romantis My Heart nggak dibawakan. Apakah karena sudah nggak
ada si screamo Josh Farro? Entahlah, yang jelas ini agak ngganjel karena semua
Parawhores pasti sepakat kalo ini salah satu lagu terbaik mereka.
Sepanjang konser saya dan Dea deg-degan, kapan lagu Misery
Business dibawakan? Ini adalah salah satu lagu terbaik Paramore, dan merupakan
lagu favorit saya dari band ini, udah hafal liriknya di luar kepala. Lagu ini
nggak kunjung dibawakan hingga konser hampir berakhir, yaitu saat mereka mulai
berpamitan masuk ke dalam. Kami semua para penonton jelas nggak tertipu, dan
otomatis kami teriak “We want more!” karena ini jelas merupakan lagu terakhir.
Saya dan Dea pun langsung bersemangat, whoah Misery Business jadi lagu encore!!
Dan benar saja, tak lama kemudian mereka pun muncul kembali, ngobrol sebentar,
lalu menghentak dengan intro Misery Business! Whoah sepanjang konser saya nggak
pernah sesemangat ini, rasanya udah pengen teriak sekenceng-kencengnya sambil
maju ke depan panggung ahahaha. Saya singalong dengan lancar jaya, termasuk
menirukan headbanging si Hayley.
Sebelum reffrain terakhir tiba-tiba Hayley berhenti nyanyi,
hanya instrumen yang tetap main namun juga tidak masuk reff. Rupanya Hayley
mengundang dua fans beruntung untuk maju ke depan panggung!!!!!!!!!! DARN I
FEEL SO ENVIOUS!!!!!!! Satu cowok dan satu cewek bule tersebut girang banget
waktu naik ke panggung dan berpelukan dengan semua personil. Uh kami semua
teriak-teriak iri. Gimana nggak iri coba, berinteraksi langsung dengan idola
gitu. Sempet foto2 selca juga sama masing-masing personel, gila nggak tuh,
bayangin gimana makin irinya kita. Dan yang makin bikin nyesek lagi, mereka
diberi kesempatan untuk menyanyikan reff terakhir Misery Business! Dan si cowok
tersebut nggak hafal! Padahal saya ini hafal di luar kepala!!!!!!!! Ugh coba
saya yang ada di situ, pasti semangat banget nyanyinya T______T. Tapi tenang,
tampuk mikrofon tetap dikendalikan oleh Hayley, meskipun si cowok tadi nggak
hafal Hayley tetap menyelesaikan lagu dengan sempurna dengan menyanyikan reff
terakhir tersebut. Uwaah senang sekali bisa khatam dengan lagu encore sempurna
begitu.
Setelah peristiwa si dua anak nggak hafal lagu namun diajak
ke atas tersebeut (masih iri nih ceritanya -_-) saya tiba-tiba teringat ide
lama. Dea and I should have brought a poster. Harusnya kami bawa poster dengan
tulisan yang mencolok mata Paramore walaupun kami berdiri di Festival B yang
jauh dari panggung, misalnya tulisan “PARAMORE, YOU ROCK MY INDEPENDENCE DAY”.
Pretty cool, huh? Siapa tahu dengan poster kece kami meskipun kami di Festival
B Hayley akan melihat kami lalu saya dan Dea bisa aja dapat kesempatan diundang
ke atas panggung...hiks *sobs
Yah akhirnya konser pun benar-benar berakhir sekitar jam
10.30an. Capek tapi puassss bisa nonton mereka. Selain performance yang
sempurna, kerja panitia juga saya akui baik karena kondisi konser kondusif dan
aman, meskipun ada kesalahan teknis sound sebelum Paramore manggung. Saya juga
nggak nyangka ternyata Lotus Pond GWK bagus juga untuk konser, sistem
akustiknya bagus, somehow batu-batu raksasa tersebut nggak menimbulkan gaung
yang mengganggu, sound musik jelas dan clear. Mungkin memang arena ini sudah
direncanakan untuk event seperti ini, mengingat beberapa tahun lalu venue ini
juga digunakan untuk konser Soundrenaline.
Tentang performance, menurut saya Paramore sangat apik
membawakan konser. Performance menarik, atraktif, banyak improvisasi lagu namun
nggak bikin kita pangling sama lagu dan jatohnya gagal singalong, serta mereka
sangat ramah dan komunikatif terhadap penonton. Nggak nyesel deh puasa-puasa ke
Bali dan ninggalin skripsi demi mereka. Jika suatu hari nanti mereka akan ke
sini lagi saya bahkan mempertimbangkan untuk nonton lagi. Kalau tiketnya
terjangkau, tentu.
