Monday, May 6, 2013

My Concerts Experience (3)


Pada tahun 2011 ketika saya lagi masa ribet skripsi dan kebetulan juga lagi suka-sukanya band alternatif-pop rock-emo macem Panic! At the Disco dkk, eh Paramore mengumumkan bahwa mereka mengadakan konser di DUA kota di Indonesia, yaitu Bali dan Jakarta. Whoaah gembira sekali mendengar kabar tersebut, karena saya memang ngefans banget sama band asal US ini semenjak pertama kali nonton videoklip Emergency sekitar tahun 2007. Selain karena lagunya yang enak-enak di tiap albumnya, saya juga suka sekali dengan sosok Hayley Williams si vokalis imut dan cantik (dan rambutnya sungguh fabulous) namun punya kekuatan vokal yang dahsyat dan aksi panggung yang keren. Nggak mau nyesel karena nggak nonton konser Panic! At the Disco tahun 2010 sebelumnya, saya meniatkan untuk nonton konser ini. Apalagi ini diadakan di dua kota, tinggal pilih aja yang paling deket dan murah, yaitu Bali. Konsernya di GWK pula, just imagine how amazing it is, a rock concert among the high ‘rocks’ (pun intended). Namun ada satu hal yang bikin saya ragu, yaitu konser ini diadakan pas bulan Ramadhan. Yyyep, imagine how weird was that, abis taraweh trus jingkrak-jingkrak nonton konser -__-. Tapi yah, kapan lagi mereka ke Bali?? Biarin deh berpuasa di Bali (yang mana mayoritas nggak puasa sehingga godaan orang makan dan bule cakep sungguh menantang) asal bisa nonton Paramore live!

Masalah tiket konser masih bisa teratasi, kebetulan saya masih punya sisa uang abis studi ekskursi ke Singapore-Malaysia beberapa bulan sebelumnya. Cukup lah buat beli tiket seharga 500.000. Berikutnya adalah masalah skripsi, karena kebetulan hari-hari itu adalah saatnya minta tanda tangan dosbing untuk buku skripsi, sayang banget kalo kelewatan dosbing gara-gara saya ke luar kota. Namun ini bisa diatasi dengan janjian dengan dosbing, jadi ga bentrok. Kemudian masalah ketiga adalah nyari temen nonton, karena garing banget kalo teriak-teriak sendirian. Syukurlah ada teman dekat saya yang memang salah satu oknum yang mempengaruhi saya dengan musik jenis ini, yaitu Dea. Kebetulan dia juga nekat mau nonton, padahal dia belum pernah nonton konser sebelumnya. Oke sip deh, berdua kita sepakat mau nonton bareng ke Bali. Yeay Paramore here we come!

Tiket online berhasil didapatkan Dea. Kami beli tiket Festival B, yaitu yang di bagian belakang. Saya udah ngebriefing Dea sebelumnya tentang gimana desek-desekannya kalo di depan, so mending lebih aman di belakang, lebih murah 200.000 lagi, lumayan buat tiket travel. Kami berencana naik travel ke sana, booking lancar. Si Dea yang belum pernah ke Bali sampai repot-repot beli buku tour guide ke sana dan nyari akomodasi murah di mana. Haha saya emang useless deh, niat banget si Dea ini. Thanks to her kita dapat akomodasi murah di gang Poppies. Hm kalo dipikir2 saya nggak berkontribusi banyak sih di perencanaan perjalanan trip ini ya, ha ha ha -_- (ampun Dex!)

Hari H-1 konser tiba, saatnya kami berangkat. Kami dijemput oleh travel ke rumah masing-masing. Kami sama-sama bawa bekal buat buka puasa dan sahur di jalan, buat jaga2 kalo makanan di rumah makan ntar kurang ato gimana. Syukurlah perjalanan travel lancar, nyampe Bali jam 7an di mana jalanan Legian masih sepi karena bule2 pasti masih pada hangover. Kami diantar pak sopir travel ke gang poppies pesenan kami, lalu kami langsung menuju penginapan yang kami incar sebelumnya di buku. Check in lancar, kami dapat kamar yang sederhana namun bersih lah.

Setelah istirahat sebentar dan bersih diri kami memutuskan untuk keliling-keliling menggunakan motor sebelum nanti sore meluncur ke GWK. Abis mau gimana lagi, di Bali kan ga ada kendaraan umum. Di daerah tersebut banyak persewaan kendaraan, tinggal pilih aja. Kami menyewa motor dengan biaya sewa 50.000 per hari dengan menjaminkan KTP saya. Karena dianggap saya lebih berpengalaman nyetir motor dan lebih tahu Bali, maka saya didaulat menjadi juru kemudi motor. Seru juga sih puter-puter naik motor, kami mampir ke Krisna untuk beli oleh-oleh. Sempat juga ke Pantai Kuta (nggak sah ke Bali kalau belum ke Pantai Kuta). Siang agak sorean kami langsung ke GWK, sukur-sukur ketemu mereka lagi soundcheck hihi. Lagian Dea belum pernah ke GWK, jadi kami liat-liat GWK dulu.

Pas masuk area GWK kami disambut oleh sound system kenceng yang lagi nyetel Monster-nya Paramore. Awalnya kami kira ini semacam sound system kayak di taman-taman hiburan gitu, namun setelah kami dengerin dengan seksama barulah kami sadar, itu suara Paramore beneran lagi checksound!!!!!!!!!!! Kyaaa girang banget dah kami dengerin spoiler alert gini, kami langsung heboh nyari jalan yg ke arah lapangan tersebut, namun sayangnya pintunya dikunci dan dijaga panitia security. Yah sayang banget, ga bisa intip-intip Hayley. Lalu kami muter-muter aja di situ, kali-kali mereka kelar checksound lalu memutuskan untuk muter-muter GWK, hahaha. Namun hingga senja kami nggak kunjung menemui mereka. Ya sudahlah maka kami memutuskan untuk keluar GWK menuju pintu Lotus Pond, yaitu pintu masuk arena konser.
Hari mulai gelap, karena tak  ada adzan di area tersebut maka saya ngarang2 aja buka puasa hahaha. Satu persatu para penonton berdatangan. Kami memutuskan untuk registrasi aja dulu biar nggak ngantri ntar. Eh lumayan, registrasi dan dapat poster keren, sampe sekarang poster ini saya pajang di pintu lemari saya, sukses bikin suasana kamar nggak gloomy :D.

cakep lah posternya, sayang sobek dikit T_T

Sekitar jam 7an pintu gate dibuka, kami pun berbondong-bondong masuk. Kami agak heran juga, secara penontonnya nggak terlalu banyak. Dan benar saja, ketika sampai di dalam venue, yaelah kosong amat ini lapangan!! Paling yang keisi sekitar 20%. Jadi agak nyesel juga sih kami, tau gini beli di Festival A aja, ternyata nggak berdesak-desakan. Konser baru akan dimulai 1 jam kemudian, penonton juga terus berdatangan, namun jumlahnya nggak signifikan. Panggung gede dan diapit batu-batu raksasa sungguh makin menambah rasa kekosongan venue.

Sekitar jam 8an konser dimulai meskipun jumlah penonton paling cuma 40-50%an dari keseluruhan kapasitas. Band pembuka yang diboyong grup Paramore mulai maju ke tampil. Aduh saya lupa nama bandnya apa, hahahah, tapi musiknya lumayan kok sebagai pemanasan. Sekitar 20-30 menitan mereka bermain, lalu mereka undur diri untuk menyerahkan panggung kepada sang artis utama. Whoaah makin panas lah suasana, bentar lagi jingkrak-jingkrak nonton band favorit kami semua! Namun tunggu punya tunggu Paramore nggak kunjung muncul, malah beberapa kru sibuk mbenerin alat di panggung. Hm kayaknya masih maintenance teknis, yah jadi turnoff, nunggu lagi lama. Ada kalo kalo 30 menitan, ampe pada capek.

Kemudian setelah panggung mulai all clear, lampu menyala! Dan OMG itu si Hayley lari-lari masuk panggung sambil bawa bendera Merah Putih!!!!!!!!! Owaahh mereka juga menghormati kita karena kebetulan hari itu memang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Wah emang si Hayley ini imut2 namun sungguh enerjik dan ramah, begitu pun dengan sang bassist Jeremy Davis dan gitaris Taylor York. Sayang momen ini agak pahit, mengingat beberapa bulan sebelum mereka ke Indonesia sang gitaris dan drummer Farro bersaudara memutuskan hengkang dari Paramore (padahal mereka kan ganteng dan skillful T_T). Yah tapi mau gimana lagi, the show must go on.

Lagu demi lagu dibawakan dengan full stamina, nggak ada capek-capeknya deh mereka beraksi,lari ke sana kemari. Mereka juga ramah banget, di sela-sela lagu menyempatkan menyapa penonton, having a little chit chat, nunjuk-nunjuk kita dan aktif berkomunikasi. Padahal penonton nggak full lho, tapi itu seolah nggak menyurutkan semangat mereka untuk menyuguhkan performance terbaik.

Nggak semua lagu dibawakan dengan gahar, ada beberapa lagu yang juga dikemas manis dengan suguhan akustik. Kami semua tetap semangat singalong di tiap lagu. Saat lagu yang enerjik kami pun ikut berteriak dan loncat-loncat, saat lagu yang manis kami pun ikut melambaikan tangan sambil menyalakan hp..haha ini udah standar banget di tiap konser untuk melakukan ritual seperti ini. Sepanjang lagu kami nggak henti-hentinya ikut bernyanyi, loncat-loncat, meneriakkan nama personel masing-masing. Rasanya terharu banget bisa menyaksikan mereka dengan live, karena sungguh penampilannya sangat memukau. Apalagi ketika lagu Pressure di mana seperti di videoklipnya, Jeremy berguling di punggung Taylor, otomatis teriakan KYAAAAAAAA menggetarkan seluruh venue yang setengah kosong namun sangat hidup itu.

Sebagian besar lagu hits mulai dari album pertama yaitu All We Know is Faling hingga album terbaru yaitu Brand New Eyes dan single terbarunya dibawakan dengan sempurna. Ada satu hal yang agak saya sayangkan sih, yaitu nomor romantis My Heart nggak dibawakan. Apakah karena sudah nggak ada si screamo Josh Farro? Entahlah, yang jelas ini agak ngganjel karena semua Parawhores pasti sepakat kalo ini salah satu lagu terbaik mereka.

Sepanjang konser saya dan Dea deg-degan, kapan lagu Misery Business dibawakan? Ini adalah salah satu lagu terbaik Paramore, dan merupakan lagu favorit saya dari band ini, udah hafal liriknya di luar kepala. Lagu ini nggak kunjung dibawakan hingga konser hampir berakhir, yaitu saat mereka mulai berpamitan masuk ke dalam. Kami semua para penonton jelas nggak tertipu, dan otomatis kami teriak “We want more!” karena ini jelas merupakan lagu terakhir. Saya dan Dea pun langsung bersemangat, whoah Misery Business jadi lagu encore!! Dan benar saja, tak lama kemudian mereka pun muncul kembali, ngobrol sebentar, lalu menghentak dengan intro Misery Business! Whoah sepanjang konser saya nggak pernah sesemangat ini, rasanya udah pengen teriak sekenceng-kencengnya sambil maju ke depan panggung ahahaha. Saya singalong dengan lancar jaya, termasuk menirukan headbanging si Hayley.

Sebelum reffrain terakhir tiba-tiba Hayley berhenti nyanyi, hanya instrumen yang tetap main namun juga tidak masuk reff. Rupanya Hayley mengundang dua fans beruntung untuk maju ke depan panggung!!!!!!!!!! DARN I FEEL SO ENVIOUS!!!!!!! Satu cowok dan satu cewek bule tersebut girang banget waktu naik ke panggung dan berpelukan dengan semua personil. Uh kami semua teriak-teriak iri. Gimana nggak iri coba, berinteraksi langsung dengan idola gitu. Sempet foto2 selca juga sama masing-masing personel, gila nggak tuh, bayangin gimana makin irinya kita. Dan yang makin bikin nyesek lagi, mereka diberi kesempatan untuk menyanyikan reff terakhir Misery Business! Dan si cowok tersebut nggak hafal! Padahal saya ini hafal di luar kepala!!!!!!!! Ugh coba saya yang ada di situ, pasti semangat banget nyanyinya T______T. Tapi tenang, tampuk mikrofon tetap dikendalikan oleh Hayley, meskipun si cowok tadi nggak hafal Hayley tetap menyelesaikan lagu dengan sempurna dengan menyanyikan reff terakhir tersebut. Uwaah senang sekali bisa khatam dengan lagu encore sempurna begitu.

Setelah peristiwa si dua anak nggak hafal lagu namun diajak ke atas tersebeut (masih iri nih ceritanya -_-) saya tiba-tiba teringat ide lama. Dea and I should have brought a poster. Harusnya kami bawa poster dengan tulisan yang mencolok mata Paramore walaupun kami berdiri di Festival B yang jauh dari panggung, misalnya tulisan “PARAMORE, YOU ROCK MY INDEPENDENCE DAY”. Pretty cool, huh? Siapa tahu dengan poster kece kami meskipun kami di Festival B Hayley akan melihat kami lalu saya dan Dea bisa aja dapat kesempatan diundang ke atas panggung...hiks *sobs

Yah akhirnya konser pun benar-benar berakhir sekitar jam 10.30an. Capek tapi puassss bisa nonton mereka. Selain performance yang sempurna, kerja panitia juga saya akui baik karena kondisi konser kondusif dan aman, meskipun ada kesalahan teknis sound sebelum Paramore manggung. Saya juga nggak nyangka ternyata Lotus Pond GWK bagus juga untuk konser, sistem akustiknya bagus, somehow batu-batu raksasa tersebut nggak menimbulkan gaung yang mengganggu, sound musik jelas dan clear. Mungkin memang arena ini sudah direncanakan untuk event seperti ini, mengingat beberapa tahun lalu venue ini juga digunakan untuk konser Soundrenaline.

Tentang performance, menurut saya Paramore sangat apik membawakan konser. Performance menarik, atraktif, banyak improvisasi lagu namun nggak bikin kita pangling sama lagu dan jatohnya gagal singalong, serta mereka sangat ramah dan komunikatif terhadap penonton. Nggak nyesel deh puasa-puasa ke Bali dan ninggalin skripsi demi mereka. Jika suatu hari nanti mereka akan ke sini lagi saya bahkan mempertimbangkan untuk nonton lagi. Kalau tiketnya terjangkau, tentu.

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...