Tuesday, February 11, 2025

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist History yang berkisah tentang mengapa tim hoki muda Kanada diisi oleh anak-anak kelahiran awal tahun. Hal itu sangat mind-blowing bagi saya (saya ingat bahwa saya mendengarkan itu ketika sedang belanja di Coop di Lund dan saya bahkan sempat berhenti berjalan dan menyimaknya).

Beruntungnya setahun kemudian saya menemukan buku ini di perpustakaan Cinta Baca di Bogor. Ternyata buku ini tidak hanya memuat kisah tentang tim hoki tersebut, tapi juga banyak kisah dan kejadian lain yang menunjukkan bahwa meritokrasi bukanlah segala-galanya. Disertai dengan berbagai referensi jurnal dan penelitian (yang mungkin kadang terdengar cocoklogi tapi mashok), saya jadi lebih percaya akan hipotesis maupun argumentasi yang disajikan karena masuk akal.



(Sumber: https://www.goodreads.com/book/show/3228917-outliers)

Selama ini yang saya tahu kejeniusan itu penting untuk kesuksesan, serta okelah background privilese keluarga yang kaya juga pasti memengaruhi sehingga kehidupan seseorang tidak start dari nol. Namun ternyata di buku ini dibahas bahwa kesuksesan itu juga kombinasi dari faktor kesempatan dan keadaan. Hal ini dicontohkan pada kasus tim hoki Kanada, Bill Gates, Bill Joy, The Beatles, anak-anak IQ jenius, dan berbagai pengacara keturunan Yahudi pada tahun tertentu.

Kita bisa jadi hanya beruntung (atau tidak beruntung) ketika dilahirkan pada tahun tertentu di situasi ekopolsusbudhankam tertentu. Selain itu, apabila dikombinasikan dengan ketekunan mengasah sebuah skill hingga 10.000 jam, tentunya hal ini menjadi kekuatan yang luar biasa. Jenius itu bagus, tapi tidak lantas jenius = sukses, banyak juga yang sukses tapi bukan orang jenius. Beberapa hal lain yang bisa memengaruhi antara lain adalah daya imajinasi, skill asertif, bahkan latar belakang keluarga. Berbicara mengenai latar belakang keluarga, sebetulnya saya sudah lama berasumsi bahwa keluarga kaya pasti memiliki head start daripada yang tidak kaya. Saya kira itu ya jelas karena uangnya, tapi buku ini menyadarkan saya bahwa yang membedakan adalah orang kaya memiliki kemampuan untuk mengenali hak mereka. They know that they deserve it, and they can fight to earn it. Sedangkan orang miskin cenderung pasrah dengan keadaan, sehingga ketika mereka terbentur akan sesuatu mereka hanya akan menerima dan bahkan tidak tahu bahwa bisa jadi ada jalan lain atau metode lain yang bisa ditempuh untuk mencapai keinginan mereka.

Saya kira bab ini saja sudah sangat membuka mata, ternyata ada bab lanjutan yang menyampaikan bahwa perbedaan warisan budaya juga berpengaruh, seperti yang dicontohkan pada berbagai kasus kecelakaan pesawat terbang, konflik horizontal penduduk desa, hingga mengapa anak dari Asia cenderung lebih jago matematika daripada anak-anak Barat. Hal ini saya rasa rawan akan stereotip, tapi ya ternyata memang budaya itu dibentuk selama ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun, jadi wajar saja apabila hal itu sangat berpengaruh (bayangkan aksen, pasti semua orang punya kan?). Pengaruh Power Distance Index juga penting, hal ini sangat bisa saya pahami ketika saya kuliah ke luar negeri dan merasakan perbedaan budaya dan pemikiran yang berbeda dengan Asia. 

Buku ini mengajarkan saya untuk ikhlas dan rendah hati dengan keadaan saya, karena kondisi saya saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh kerja keras saya semata, melainkan lingkungan juga. Saya jadi mengamini teori bahwa manusia memang tidak memiliki freewill, kita tidak bisa memilih mau jadi seperti apa karena ya dari lahir settingan kita seperti ini. Saya jadi turut mengucapkan selamat terhadap kesuksesan orang lain dan juga memiliki empati terhadap yang kurang sukses, karena ya kadang masalah hoki akan keadaan, kesempatan, dan warisan budaya saja. Sangat saya rekomendasikan karena membuat kita jadi lebih humble dan ikhlas tapi juga jadi tahu ada banyak jalan menuju kesuksesan. 10/10.


Saturday, May 4, 2019

Tips Minta Kenaikan Gaji

Seiring bertambahnya masa bakti kita dalam sebuah perusahaan, pasti kita ingin perusahaan mengapresiasi kerja keras kita dengan kenaikan gaji yang rutin. Ada perusahaan yang dengan disiplin menaikkan gaji tiap tahun seiring inflasi mata uang, beruntunglah para karyawan yang bekerja di perusahaan seperti ini. Namun ada kalanya karyawan tidak kunjung mendapat kenaikan gaji secara otomatis, seberapa keras pun karyawan tersebut bekerja.


Tidak semua perusahaan memiliki kondisi yang mapan sehingga mampu dengan rutin menaikkan gaji. Ada perusahaan yang memang tidak mau menaikkan gaji kecuali diminta, alias pelit. Nah kalo perusahaan kita termasuk kategori terakhir, jangan keburu kecewa. Kadang, bukan tidak mungkin gaji kita bisa dinaikkan, asal kita berani berinisiatif meminta kenaikan gaji. Tentunya dengan catatan bahwa prestasi kita bisa dianggap cukup baik sehingga berhak dinaikkan gajinya.

Banyak teman saya yang bertanya-tanya bagaimana cara minta naik gaji, karena udah nggak pede duluan mau menghadap bos. Oleh karena itu, saya mau bagi-bagi tips cara minta naik gaji sesuai pengalaman saya:

1. Cari Timing yang Pas

Kita sudah bertahun-tahun kerja di situ, pasti sudah hafal bagaimana karakter bos. Kita pasti punya gambaran bagaimana membaca mood sang bos. Kalau anda sudah berniat maju menghadap bos, carilah waktu ketika mood beliau juga lagi bagus atau sedang tidak terlalu sibuk. Jangan menghadap bos ketika beliau pulang rapat, karena pasti lelah (dan mungkin uring-uringan). Jangan juga menghadap bos ketika beliau sedang hectic, dijamin malah makin dimarahi. Bagaimana kalau kita udah ngebet banget ingin segera naik gaji, tapi bos sibuk melulu di kantor? Saran saya, agendakan pertemuan empat mata di luar jam kantor. Bisa sambil ngopi di kafe, atau main ke rumahnya sekalian. Diharapkan, dengan ngobrol di luar kantor, suasana justru makin santai sehingga makin melicinkan usaha minta naik gaji.



2. Awali dengan Menjelaskan Kenapa Kita Layak Naik Gaji

Udah pas nih momennya, bos lagi santai dan suasana adem. Eh tanpa ada prakata yang jelas kita ujug-ujug nodong minta naik gaji. Ingat, kita kan sedang memohon, maka jaga etika dan perkataan yang sopan santun. Awali dengan betapa loyalnya anda selama ini, selalu disiplin dan tidak pernah terlambat, selalu mengerjakan tugas tepat waktu, dll. Pokoknya kalian karyawan teladan banget deh. Ketika bos udah mengerti betapa berharganya kita dalam perusahaan, baru utarakan niat untuk memohon kenaikan gaji. 


3. Jangan Langsung Nodong dengan Angka yang Bombastis 

Mentang-mentang udah layak, jangan trus kebangetan dengan minta naik gaji 2x lipat. Nanti yang ada kita malah dipecat karena ngelunjak. Mintalah angka yang sewajarnya, bisa berupa angka atau persen. Boleh dinaikkan sedikit dari harga pantasnya kita alias di-mark up, karena nanti angka tersebut pasti bakal dinego oleh bos. Jadi, juga jangan melas banget dan cuma minta naik gaji terlalu sedikit. Mirip-mirip ketika kita negosiasi gaji ketika awal masuk kerja lah. Selalu maintain suasana negosiasi yang nyaman bagi kedua belah pihak hingga dicapai suatu kesepakatan angka.


Kadang masih ada aja orang yang nggak berani untuk langsung tatap muka minta naik gaji, bisa jadi karena khawatir gugup sehingga gagal negosiasinya. Nah, kalo kasusnya kayak gini saya punya tips bonus yaitu:

4. Tulis Surat/E-mail

Kalau suka tulis tangan atau ketik, taruh surat tersebut di amplop dan letakkan di meja beliau. Kalau bos jarang di kantor, tulis e-mail. Jabarkan seperti apa yang saya kemukakan di atas, yaitu jelaskan mengapa kita layak diberi kenaikan gaji, serta berapa kenaikan yang kita inginkan. Dengan cara ini, diharapkan bos bakal membaca tulisan kita terlebih dahulu sehingga memberi waktu buat beliau untuk berpikir. Kalau memang beliau kepikiran, pasti beberapa waktu kemudian kita dipanggil menghadap untuk menjelaskan secara langsung. Kalau bos tidak kunjung merespons, ingatkan saja atau serahkan langsung ke beliau.

Tuesday, February 19, 2019

Ikea Challenge: Dekor Kamar Tidur < 2 Juta!

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai penataan kamar tidur yang efektif, kali ini saya mau kasih contoh konkritnya. Mumpung sekarang lagi musim orang-orang bikin challenge, saya mau coba membuat challenge untuk mendekorasi kamar dengan budget di bawah 2 juta dengan produk-produk dari Ikea.

Kenapa Ikea? Seperti yang kita ketahui, Ikea adalah merk furniture asal Swedia yang terkenal akan kualitasnya dengan harga yang cukup terjangkau. Sebenarnya sulit banget untuk memilih-milih produk mana yang akan saya implementasikan dalam desain, secara produknya banyak banget dan bagus-bagus. Nah, dengan challenge ini, saya mau membuktikan bahwa produk-produk Ikea nggak cuma bagus desain & kualitasnya, melainkan juga harganya pun terjangkau dan sesuai dengan desainnya.

Untuk mempersempit variabel desain, di sini saya berasumsi bahwa kamar sudah memiliki furnitur dasar, yaitu kasur (beserta bantal dan selimutnya) dan lemari pakaian. Oleh karena itu, barang-barang yang akan saya usulkan adalah pelengkap dekorasi kamar saja. Tema dekorasi juga saya kerucutkan, yaitu dekorasi fungsional yang sesuai dengan tulisan saya sebelumnya mengenai cara menata kamar yang bisa meningkatkan kualitas tidur kita. Satu lagi, saya juga ingin menerapkan tema kamar tidur yang modern minimalis. Minimnya motif dan warna menjadikan kamar terasa lebih simpel dan tidak 'ramai' secara visual. Kita pun akan merasa makin rileks tanpa kegaduhan visual, sehingga diharapkan bisa meningkatkan kualitas tidur kita.

Nah, berikut adalah item-item rekomendasi saya:


1. Seprei hitam DVALA 120x200

Harga: Rp 135.200
Beli di sini: https://ikea.co.id/in/produk/kamar-tidur/tekstil-tempat-tidur/seprai-dan-sarung-bantal/dvala-seprai-berkaret-hitam-art-70357275

Seprai ini terbuat dari katun murni, sehingga terasa lembut dan nyaman. Saya pilih warna hitam, supaya seprai tidak mudah terlihat kotor.

2. Sarung selimut & bantal TUVBRÄCKA 200x200/50x80

Harga: Rp 399.200



Cover selimut berupa kancing, sehingga pemasangannya mudah dan tetap di tempat. Uniknya, kalo diperhatikan dari dekat, pola garis-garis tersebut ternyata tidak benar-benar lurus, karena desainernya mengecat dengan tangan. Hal ini tentunya menambah nilai plus karena keunikannya. Selain itu, pola garis-garisnya berbeda di setiap sisi, jadi jika kita bosan dengan motif hitam dengan garis putih, ya tinggal dibalik aja menjadi motif putih dengan garis hitam. Dengan demikian, motif seprai tidak akan membuat bosan dan senantiasa menjadi focal point kamar tidur.

3. Jaring kasur BRYNE

Harga: Rp 149.000
Meskipun berwarna putih, jaring ini Mudah dibersihkan karena kainnya dapat dilepas dan dicuci menggunakan mesin. Jaring ini selain menambah ketenangan juga bisa membantu untuk menangkal nyamuk lho, jadi makin nyaman. Ukuran panjangnya 230 meter dan diameter 56 cm, sehingga bisa mengcover keseluruhan tempat tidur.


4. Gorden anti tembus cahaya HILLEBORG

Harga: Rp 599.000
Gorden anti tembus cahaya ini berlubang di bagian atasnya, sehingga pemasangannya yaitu tinggal digantung saja pada batang tirai. Gorden ini benar-benar menghalangi cahaya masuk dan menggelapkan kamar kita, sehingga tidur pun makin pulas tanpa gangguan cahaya. Saya pun memilih warna abu-abu agar memberi kesan makin gelap. Warna ini juga cocok disandingkan dengan warna dan motif seprai dan selimut.


5. Karpet abu-abu FÅRDRUP 100x60

Harga: Rp 299.000
Karpet ini teksturnya halus dan lembut, sehingga sangat nyaman untuk diletakkan di pijakan kaki di sisi tempat tidur. 


6. Lampu sorot dinding/jepit KVART

Harga: Rp 69.900

Lampu sorot dinding ini fleksibel batangnya, sehingga cahaya bisa diarahkan ke mana saja sesuai yang kita mau. Selain dipasang di dinding, lampu ini juga bisa dijepitkan di kepala tempat tidur. 


7. Bangku FROSTA

Harga: Rp 195.000
Frosta ini salah satu furniture Ikea paling populer dan menjadi signature-nya. Bangku ini bisa ditumpuk-tumpuk, jadi efisien. Bentuknya yang simple namun menarik menjadikannya cocok sebagai bangku duduk maupun meja. Saya pilih yang warnanya birch natural, agar memberi kesan alami pada kamar.

8. Jam beker hitam DEKAD

Harga: Rp 89.900
Jam beker dengan diameter 10 cm ini berdesain vintage, sehingga memberi nuansa romantis tersendiri pada kamar. Jam ini tidak berdetak, karena menggunakan mesin quartz yang diam. Oleh karena itu, jam beker ini sesuai untuk diletakkan di sisi tempat tidur. 


9. Pot FEJKA

Harga: 34.900

Tanaman artifisial ini mungil dan simple, cocok untuk diletakkan di atas Frosta yang juga permukaannya kecil. Memang sih tanaman asli akan lebih terlihat menyenangkan, namun tidak ada salahnya menggunakan tanaman artifisial yang no-maintenance ini, apalagi jika kita tidak punya waktu dan tenaga untuk merawat tanaman asli. Poin plusnya juga, tanaman ini akan tetap terlihat hijau selama bertahun-tahun, jadi tetap awet.


10. Lilin putih SMÅTREVLIG

Harga: Rp 19.900



Ini dekorasi bonus aja sih, yang sebetulnya nggak ada di tulisan saya sebelumnya. Namun saya menambah item ini dengan harapan aroma yang ditimbulkan menjadikan suasana kamar makin menenangkan. Warnanya yang temaram nan romantis dengan wangi vanila dan aroma garam laut menjadikannya cocok sebagai aromaterapi ketika kita bersantai di tempat tidur. Bonusnya lagi, ketika lilin sudah terbakar habis, mangkuknya bisa digunakan untuk tempat lilin lagi.


Nah dari berbagai item di atas, kira-kira gini nih jadinya kalo dituangkan ke dalam desain:





Lucu kan? Hihi.. Kebetulan saya memang awalnya suka warna gelap, jadi sekalian saya tuangkan dalam suasana kamar yang gelap. Dengan adanya dekorasi yang simpel tapi fungsional, suasana kamar jadi terasa makin nyaman dan cocok untuk relaksasi. Item-item di atas juga bahannya sangat nyaman, sehingga dijamin tidur pun makin nyenyak dan berkualitas.



Nah sekarang kita total yah berapa belanjaan kita, sesuai nggak nih sama challenge-nya?



Wah ternyata nggak sampe 2 juta rupiah ya! Malah ada kembalinya Rp9.000, lumayan bisa buat jajan es krim di bistro Ikea selepas berbelanja hehe.. 

Friday, February 15, 2019

Tips Penataan Kamar Tidur yang Nyaman

Saya sering ngomel dengan suami saya yang secara umum jam tidurnya lebih banyak daripada saya. Kadang jam 9 dia sudah ngantuk (meskipun dia bangun lebih pagi daripada saya sih), sedangkan saya suka begadang menggambar atau main game sampai tengah malam. Kalau pun dia juga begadang, ia masih bisa tidur siang karena ia wiraswasta yang bekerja di rumah (oke kali ini mungkin saya ngomel karena iri aja). Saya sering bilang kalau orang-orang sukses & para penemu tidurnya cuma beberapa jam saja dan bisa sukses, bahwa ide-ide mereka lah yang membuat mereka tetap terjaga, tapi suami saya cuek aja dan beranggapan kalau ngantuk itu berarti memang sudah ditakdirkan dan diberi sinyal oleh tubuh bahwa kita perlu tidur, jangan ditahan-tahan. Memang sih, saya amati bahwa ia lebih sehat daripada saya yang jam tidurnya 5-6 jam sehari (bahkan 4 ketika weekend, gara-gara nge-game), sedangkan jam tidur dia cenderung ideal yaitu 7-8 jam sehari. Ia jarang sakit, sedangkan saya gampang banget sakit, padahal kami sama-sama rajin olahraga.

Baru-baru ini saya baca tulisan di The Guardian yang membahas tentang tidur. Ternyata tidur sangat underrated. Manfaat tidur jauh lebih penting daripada yang saya bayangkan. Berbagai studi menyatakan bahwa kurang tidur bisa memicu resiko alzheimer, kanker, stroke, gagal jantung; menekan hormon yang memicu kita merasa lapar sehingga kita bakal ingin ngemil terus (ini penting banget lol); bahkan memicu depresi dan kecenderungan bunuh diri. Hampir seluruh pengidap gangguan psikologis di dunia dalam 20 tahun terakhir ini ternyata memiliki kesamaan, yaitu hampir semuanya kurang tidur. Bahkan, tokoh seperti Margaret Thatcher dan Ronald Reagan yang menggembar-gemborkan jam tidur mereka yang minim ternyata juga kena alzheimer. Intinya, the shorter your sleep, the shorter your life. Oleh karena itu, kini para ilmuwan dan dokter mulai mengampanyekan pentingnya tidur--meskipun hanya menambah satu jam saja--untuk mengobati dan mencegah segala keluhan dan penyakit.

Namun, lama jam tidur aja nggak cukup. Kita semua punya 24 jam sehari, katakanlah misalnya 8 jam untuk bekerja; 8 jam untuk waktu luang, rekreasi, ataupun berkumpul bersama orang-orang di sekitar kita; dan 8 jam untuk tidur. Kita menghabiskan 1/3 waktu kita dalam sehari untuk tidur. Apa jadinya kalo kita tidur 8 jam, tapi tempat tidurnya nggak nyaman? Apakah ketika bangun tidur kita bakal tetap merasa fresh atau malah badan makin sakit semua karena kelamaan tidur dalam keadaan tidak nyaman? Sayang banget kan kalo kita punya waktu sebanyak itu untuk tidur tapi tidurnya nggak berkualitas, padahal tidur yang nyenyak membuat kita sehat untuk beraktivitas sepanjang hari.

Bagaimana cara meningkatkan kualitas tidur? Salah satunya dengan menciptakan suasana kamar tidur yang nyaman. Kamar tidur yang baik adalah kamar yang memfokuskan kita untuk istirahat tanpa gangguan. No TV, no computer, just good ol' mattress and things to relax ourselves. Kita harus memilih kasur yang baik dan menata ruang dengan nyaman, karena itu termasuk investasi kita untuk menjalani kehidupan. Berikut adalah beberapa contoh penataan kamar tidur dengan penataan yang baik untuk meningkatkan kualitas tidur kita.

1. Less is more



Coba kita pikir-pikir, barang apa yang seringkali kita taruh di samping kasur kita karena kita sering malas berjalan untuk mengambil barang tersebut ketika terlanjur mager (malas gerak)? Ponsel, charger, buku, kacamata, gelas, tablet, dan lain-lain. Kadang terlalu banyak barang di samping ranjang kita justru membuat kita sulit tidur, karena terlalu banyak distraksi. Hampir semua orang pasti pernah nggak bisa tidur karena keasyikan scrolling medsos, main game di tablet, atau membaca buku (ada nggak sih yang hari gini masih terbiasa baca buku sebelum tidur?). Oleh karena itu, salah satu cara kita memaksa agar fokus cepat tidur adalah meminimalisasi distraksi. Pilih ranjang yang simpel, gunakan kursi stool sebagai pengganti nakas, dan cukup letakkan lampu tidur di samping ranjang. Boleh juga ditambah tanaman aromaterapi untuk relaksasi atau alarm.


2. Pilih kasur yang berkualitas



Kasur adalah investasi untuk hidup sehat, oleh karena itu pemilihan mutu kasur sangatlah penting. Mau kasur busa atau pegas, pilihlah kasur berstruktur keras yang menjaga bentuk tubuh kita agar tetap datar di atas kasur, bukan tenggelam di dalam kasur. Bentuk yang tetap akan memberikan penyangga yang stabil dan mendistribusikan berat badan secara merata, sehingga baik untuk postur tubuh kita. Jangan lupa, pilih seprai dengan bahan alami yang nyaman seperti katun ataupun lyocell.


3. Pilih sarung selimut & sarung bantal yang nyaman



Kasurnya udah bagus, seprainya udah nyaman, tapi percuma juga kalo selimut dan bantalnya masih nggak nyaman. Pilihlah selimut dan bantal yang nyaman sehingga makin melengkapi pengalaman tidur nyenyak yang paripurna. Pilihlah material yang menyerap keringat dan lembut, seperti katun murni.


4. Tambahkan tirai untuk penutup ranjang





Riset mengatakan bahwa tidur dalam keadaan gelap sangat baik untuk meningkatkan kualitas tidur kita. Cahaya dapat menghambat sekresi melatonin, yaitu hormon yang secara alami menghambat tidur. Oleh karena itu, suasana kamar yang gelap dapat membantu kita lebih cepat tidur dengan nyenyak. Kadang kita merasa kurang nyaman tidur dalam kamar yang 100% gelap, maka kita masih menyalakan lampu tidur yang agak remang-remang. Oleh karena itu, salah satu upaya mengurangi cahaya langsung ke mata adalah dengan memasang tirai penutup di ranjang untuk membantu memblokir cahaya. Pilihan tirai bermotif juga bagus untuk menambah suasana elegan dan mewah di kamar.


5. Gunakan gorden anti tembus cahaya




Minimalisir cahaya di kamar agar bisa menunjang tidur yang nyenyak. Gunakan tirai anti tembus cahaya untuk memblokir cahaya, apalagi jika kita tinggal di apartemen di lantai yang tinggi. Semakin rapat jalinan benangnya, maka gorden tebal pun juga bisa mencegah kebisingan masuk ke kamar. Gunakan gorden berukuran besar yang panjangnya dari plafon hingga lantai untuk efek yang maksimal.


6. Gunakan karpet untuk meredam suara



Tinggal di apartemen dan sering terganggu oleh tetangga di lantai bawah yang berisik? Karpet bisa menjadi salah satu solusi sementara untuk meredam suara (selain langsung menegur tetangga yang bersangkutan hehe). Suasana tidur pun bisa makin tenang. Pilih karpet yang sesuai dengan tema kamar agar kamar terlihat makin cantik.


7. Pasang lampu tidur adjustable, dimmer, dan remote control







Mendadak terbangun tengah malam dan igin menyalakan lampu, tapi khawatir membangunkan pasangan? Cegah hal tersebut dengan lampu adjustable! Pasang lampu tidur di atas kepala yang bisa diarahkan sesuai kebutuhan. Gunakan alat peredup lampu (dimming kit) untuk mengatur cahaya lampu. Kalo perlu, bisa juga gunakan remote untuk menyalakan lampu utama kamar tanpa harus bangun dari tempat tidur dan mengganggu pasangan.

Thursday, January 10, 2019

Birthday = Overrated

*tulisan ini saya buat kala hari ulang tahun saya pada Oktober 2018*

Hampir semua orang yang saya kenal tidak tahu kalau kemarin tanggal saya berulang tahun ke-29. Memang tanggal ini tidak saya ekspos di medsos. Saya pun nggak pernah upload foto2 perayaan ultah, wong memang tidak pernah dirayakan. Yang tahu hanya suami, keluarga, sahabat saya Carissa, dan teman-teman kantor. Itupun karena saya traktir gorengan di kantor dan tanggal ultah kami semua memang dituliskan di kalender khusus kantor. (anehnya malem-malem tiba-tiba ada kawan SD yang sudah lama sekali MIA kontak saya dan mengucapkan ultah. Rupanya dia ingat saya ultah bulan ini. Kok ya pas harinya. Birthday miracle?)

Selayaknya ritual ulang tahun, saya punya rasa syukur dan harapan untuk ke depannya. Yang paling saya syukuri adalah hingga di usia kepala 2 terakhir ini alhamdulillah saya tidak punya konflik ataupun drama dengan siapapun. Ya iyalah wong saya nggak punya kehidupan sosial 😂. Tapi beneran deh, mungkin karena semakin beranjak tua saya makin 'chill' dan tahan cibiran. Saya menghindari konflik dengan siapapun. Kalau saya nggak setuju dengan seseorang saya memilih diam daripada membantah kesalahannya dan menyebabkan konflik (ya memang ini salah satu resolusi 2018 saya: kalau tidak perlu-perlu banget, diam aja nggak usah komentar).

Keluarga besar pada memberi selamat dengan embel-embel klasik: semoga cepat punya momongan, selayaknya wanita normal lain (..... ya kan? 😂). Hmm, saya apresiasi aja sih, ya saya aminin aja, but I definitely know, not now yet. Cuma suami saya aja yang ucapannya anti mainstream: semoga cepat kaya 😂. Ya saya jawab, "Ya bantu aku dong biar cepet kaya!" 🤣

Nah inilah yang bikin saya males majang hal berbau ultah : klise. The same old "god bless", "semoga sukses sehat selalu", atau yang lebih buruk lagi, "WYATB". Seriously, what the hell does that stand for? Do you even mean it?? Belum lagi teman-teman (yang belum tentu kita kenal juga) yang ngasih selamat di facebook pake template warna-warni. Saya penasaran, apakah orang-orang ini sungguh-sungguh dengan tulus memberi selamat atas kelahiran kita? Atau cuma biar tetep eksis, atau cuma default aja 'ada orang ultah ya dikasih selamat'? Karena itulah saya lebih memilih tidak ada yg mengucapkan selamat daripada mengucapkan tapi cuma basa-basi saja.

Apa harapan saya? Well saya harap di usia ini saya bisa makin dewasa & bijaksana (because i feel I'm not adult enough), kurang-kurangin nyinyir dan SJW (yang ternyata melelahkan saya dan mengganggu suami saya 😂), dan yang penting: jadi kaya! 😂

Saya memang nggak suka dirayakan ultahnya sih. Saya nggak nyaman menjadi pusat perhatian, kecuali ketika saya sedang pidato atau tampil ngeband. Di luar itu, hell no. Selain itu menurut saya perayaan ultah itu semu sekali. Saya disalamin selamat ultah, makan-makan sedikit traktirannya, dan sudah. Kembali ke kesibukan masing-masing. Well birthday is supposed to be a special day, right? It's just weird that the special moment only lasted for a few minutes, not the whole day. Selain itu pesta menghabiskan banyak biaya dan menghasilkan sampah yang nggak perlu, buang2 uang, dan mengotori lingkungan. Yes i am that over thinking. Makanya saya lebih memilih menghabiskan waktu bersama suami saja di hari itu karena hanya dia yang mau mencurahkan harinya khusus untuk saya dan apapun kegiatan yang saya mau. Entah makan, jalan-jalan, atau sekedar ngopi bareng.

Meskipun demikian, saya hanyalah perempuan biasa yang kadang-kadang ingin di-surprise-in wkwkwk. Kadang jauh di lubuk hati saya ingin di suatu ultah saya entah yang keberapa, someone actually throw a surprise special to me. Heck, saya bahkan masih ingin diberi hadiah, just like any other girls. Tidak dapat dipungkiri, kadang saya iri kalau ada teman yang pamer hadiah ultah, ataupun ada temen yang susah-sudah nyari kado untuk temannya yang lain. I can't help but wonder, why does no one give me a gift? Ya tapi gimana mau ngasih wong tanggalnya aja dirahasiakan 😂. Makanya sekalian aja deh saya nggak mau masang tanggal ultah biar nggak ngarep yang enggak realistis. Bahkan suami saya aja nggak ngasih apa-apa. Hadiah ultah terakhir (entah di tahun berapa) yang saya terima adalah helm, itupun helm bekas beli di Comboran 😑. Ya itu aja udah bersyukur sih, dikasih sesuatu yang memang saya perlukan. Makanya setiap dia ultah saya nggak ngasih kado, soalnya nanti saya pasti berharap something in return, which is never going to happen. Dan dia fine-fine aja meskipun nggak dikasih, huh jadi nggak ada alasan pamrih deh.

Yah bagaimanapun juga, ultah ini adalah ultah yang spesial, karena hari ini hingga setahun ke depan adalah saat terakhir di mana saya masih berusia kepala 2. Usia cukup tua tapi masih bisa dibilang muda karena belum 30-an. Wajah saya memang stuck di usia 20-an awal, tapi saya tetap harus menjalani usia 29 ini dengan penuh kedewasaan. Namun demikian, inilah saat terakhir di mana saya bisa mengklaim saya umur 20an dengan bangga, so let's just enjoy the ride! Welcome my 29th year of life!

Monday, December 31, 2018

Selamat Tahun Baru 2019!

Sebentar lagi tahun 2018 akan berakhir. Sejujurnya nggak ada yang lebih berkesan selain akhirnya tinggal serumah dengan suami, setelah sebelumnya long distance marriage (saya di Surabaya, suami di Malang. Not that long distance, but still hard for a married couple). Sungguh sebuah pengalaman baru, setelah bertahun-tahun hidup ngekos merantau sendirian (literally nggak berteman dengan siapapun di kos :P).

Anyway, tulisan ini bukan tentang kehidupan pernikahan saya. Saya ingin menceritakan tentang resolusi saya tahun 2018. Dulu saya menganggap resolusi itu nggak penting. Mungkin karena dulu memang willpower saya rendah, soalnya sudah disibukkan pekerjaan yang kala dulu masih sangat sibuk. Tidak ada pemikiran untuk memikirkan hal lain selain kerja dan bertahan hidup di ibukota. Namun kini setelah saya makin dewasa dan punya banyak waktu karena pekerjaan yang cukup longgar, saya memandang perlu untuk menentukan resolusi agar hidup saya tetap nggak datar-datar aja di karier yang kini sedang datar XD

Resolusi saya tahun 2018 cuma 2, yaitu sebagai berikut (duh kayak skripsi) :

1. Membaca

Membaca adalah hobi original saya yang selalu saya sebutkan setiap ditanya apa hobi saya semenjak saya bisa membaca. Sejak kecil saya suka membaca apapun, mulai dari tabloid sampe katalog MLM. Buat saya membaca adalah kegiatan untuk belajar sekaligus pelarian dari dunia dan orang-orang yang sering ngajak ngobrol (kalo dipikir-pikir emang saya anaknya pemalu & pendiam dari dulu, percaya nggak?). Sampai SMA saya masih suka membaca novel-novel tebal. Dalam seminggu mungkin 2-3 kali saya main ke perpustakaan kota sepulang sekolah. Namun setelah memasuki dunia perkuliahan yang tugasnya bejibun, saya mulai jarang membaca. Apalagi ketika kerja, hampir tidak ada waktu untuk membaca. Kalo ada waktu mending saya gunakan untuk tidur atau nonton drama. Makanya saya kangen dengan hobi ini, mumpung sekarang saya punya banyak waktu. Selain itu saya merasa semakin beranjak tua saya makin susah fokus, soalnya sudah terbiasa dengan distraksi teknologi. Saya pernah nonton di sebuah TED bahwa membaca adalah salah satu metode untuk melatih fokus. Oke, sepertinya memang saya perlu untuk menumbuhkan minat baca lagi.

Saya nggak menetapkan target berapa buku sih, karena saya nggak pede menetapkan target, abis udah lama banget nggak membaca, jadi udah ngga bisa mengira-ngira tempo lagi (for the record, I am a fast reader. I scan & skim pretty quickly. Maybe this is why I can't focus, since I only grab the main point of the text). Saya juga ngga menetapkan target harus membaca buku jenis apa dengan topik apa, makanya ngga sampe bikin account ataupun baca Goodreads (mungkin saya emang setengah-setengah niatnya haha). I just read whatever interesting in store to read. Nggak termasuk buku TTS ya, kalo ini sih hampir setiap hari ngisi :D

Jadilah, saya membeli beberapa buku tahun ini. Kok ya kebetulan tahun ini saya sempat berkali-kali ke Big Bad Wolf, jadi lumayan menambah koleksi buku saya. Selain itu saya juga diberi beberapa buku bacaan oleh mertua saya yang seorang dosen, jadi ada beberapa materi kuliah dan buku yang beliau tulis yang bisa saya baca.



barbuk BBW

Hasilnya? Dalam setahun ini saya membaca kira-kira 10 buku, kebanyakan memang buku non fiksi. Sejujurnya saya mulai kurang tertarik dengan fiksi, karena tidak relatable dan menurut saya jarang ada pelajaran atau ilmu yang bisa dipetik. Tahun ini hanya membaca 1 fiksi karya Chuck Palahniuk berjudul Make Something Up yang berisi kumpulan cerpen. Cerpen-cerpen ini memang keren-keren, bahkan menurut saya masing-masing cerpennya bisa dibuat film.

Make Something Up: Stories You Can't Unread by Chuck Palahniuk

Buku yang paling berkesan tahun ini bagi saya adalah Battle Hymn of the Tiger Mother. Saya tahu ini buku lama, dulu sempat heboh dibahas di berbagai media barat karena metode parentingnya yang dirasa terlalu keras bagi orangtua barat. Saya baru membaca buku ini sekarang karena ya dikasih oleh mertua, selain itu juga saya sudah di masa untuk sudah layak punya anak, tapi belum kepingin haha. Ternyata memang benar, apa yang diceritakan buku ini sungguh mengubah perspektif saya tentang parenting. Bahwa semua orangtua ingin anaknya sukses, tapi bisakah kamu bertahan dengan metode disiplin luar biasa, hampir bisa dikatakan berperang dengan anak kita? Kalau kata anak si Tiger Mom ini, buku ini sebenarnya what NOT to do about parenting. Gara-gara buku ini saya jadi mikir, kalau nanti punya anak mau dibesarkan dengan bagaimana? Helicopter parenting atau tiger parenting? Makanya saya belum percaya diri untuk berkembang biak hehehe.


Battle Hymn of the Tiger Mother by Amy Chua


Selain itu, beberapa buku karya Quraish Shihab juga saya lahap, karena saya lelah membaca konflik sesama Islam di media sosial. Saya sudah makin skeptis sama berbagai ustad baru yang lebih mirip dibilang motivator daripada ustad. Kebetulan mertua saya fans berat beliau dan punya banyak bukunya, jadi saya pinjam untuk saya baca. Beberapa buku yang saya baca antara lain berjudul Jilbab, Perempuan, serta 101 Soal Perempuan. Alhamdulillah tulisan beliau yang didasarkan asbabun nuzul, sejarah, dan kajian tafsir mendalam sungguh menyejukkan dan membuka mata saya.


Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah oleh M. Quraish Shihab

Speaking of BBW, di rak saya masih ada beberapa buku hasil BBW yang belum terjamah. Ternyata memang gara-gara saya nggak menetapkan target jumlah bacaan, akhirnya ya jadi nggak maksimal effort membacanya. Kalah sama rasa malas. Tapi memang ketika saya coba paksa membaca just for the sake of checking the box, saya jadi nggak meresapi makna buku tersebut. Kata demi kata hanya berlalu, seolah saya sedang belajar membaca. Saya jadi ingin cepat-cepat menyelesaikan buku tersebut tanpa sepenuhnya memahami substansi buku tersebut. Inilah sisi negatif dari memaksakan target jumlah bacaan.

Memang tahun ini ternyata saya tidak terlalu banyak membaca, tapi setidaknya kecintaan terhadap buku telah kembali. Mungkin saya akan meneruskan target membaca ini hingga tahun depan, supaya daya fokus saya kian terasah. Lagipula saya masih rutin naik komuter tiap pulang pergi, there's no excuse to not read.



2. Be Kind


Apakah saya sejahat itu sampe be kind aja perlu jadi resolusi??

Bukan gitu sih, lebih tepatnya mungkin open up. Selama ini saya cenderung jutek kalo di tempat umum. Minding my own business & i will never care of anyone's business. Anti sosial. Makanya saya ingin tahun 2018 ini agar lebih ramah, make new friends di luar zona nyaman saya. Resolusi ini lebih mudah tercapai karena setiap hari saya naik kereta setip pulang pergi kantor, jadi selalu bertemu dengan orang lain. Saya nggak muluk-muluk harus be kind as in beramal atau gimana, cukup lebih banyak senyum, kurang-kurangin RBF (resting bitch face), dan kurangi juga frekuensi pake earphone agar saya terpaksa ngobrol dengan orang.

Resolusi make new friends juga secara alamiah tercapai karena tahun ini saya jualan susu kedelai. Saya membawa susu setiap berangkat ke kantor, jadi kadang ada teman-teman komuter yang beli, bahkan ada yang langganan. Dengan demikian saya jadi punya teman sekaligus menambah uang saku untuk transport sehari-hari. Tapiii dampak dari jualan ini adalah saya jadi jarang jalan kaki ke kantor. Biasanya setelah nyampe stasiun Gubeng saya jalan kaki ke kantor yang jaraknya kira-kira 1,7 km. Namun gara-gara membawa susu kedelai dingin saya jadi harus cepat-cepat sampe kantor agar segera naruh di kulkas. Selain itu kadang di angkot ada orang beli susu, sehingga cukup sayang untuk dilewatkan.

Jualan susu kedelai saya, freshly made everyday by my husband. Bisa delivery Surabaya & Sidoarjo lhoo :D

Dampak dari resolusi ini cukup bagus sih menurut saya, karena jadi ada rasa senang setiap saya membantu orang lain. Saya juga jadi lebih happy dan merasa berguna sebagai manusia. Definitely gonna continue this habit forever.


Friday, December 14, 2018

Menulis Lagi!


*bersihin sarang laba-laba*

Whew, long time no write! It feels good to come back to my blog, kayak reuni sama teman lama :)

Dulu sekitar tahun 2005-2015an ketika Instagram belum sepopuler sekarang, hobi yang dianggap ngetren adalah menulis alias ngeblog. Entah curhatan nyampah, ilmu pengetahuan, hingga sekedar esai ringan; punya blog dianggap sebagai suatu bukti kompetensi intelektual (dan kerennya) seseorang. Blogspot, WordPress, LiveJournal, dll menjadi platform utama, sebelum netizen jaman sekarang curhat di instastory atau bikin thread di Twitter. Saya pun dulu cukup suka menulis. Maklum, waktu itu masih masa sekolah, di mana kita masih sering berkutat dengan buku, diskusi, dan tugas yang mengharuskan kita menulis sesuatu. Secara tidak langsung otak kita terus-menerus dirangsang untuk berpikir dan menuangkannya dalam sebuah produk. Selain itu, berbagai dinamika masa muda yang saya lewati juga menjadi inspirasi saya dalam menulis. Beberapa tulisan saya juga pernah saya unggah di blog ini, selain sebagai platform abadi untuk saya, hal ini juga berfungsi untuk senantiasa mengingatkan saya agar jangan berhenti membaca dan menulis.

Namun faktanya, semakin banyaknya distraksi dalam kehidupan membuat saya (dan mungkin banyak orang juga) mulai tidak sempat menulis. Ketika Internet makin mudah dijangkau, justru saya menggunakannya untuk browsing macam-macam. Ketika Twitter booming saya masih sempat menulis, karena toh platform Twitter dirancang pada awalnya hanya untuk tulisan alias tweet. Namun ketika semua medsos berlomba-lomba menambah fitur, kita makin disibukkan oleh penggunaan fitur tersebut, membagikan apa yang mungkin nggak perlu banget untuk dibagikan. Apalagi ketika Instagram populer, hari-hari kita diisi oleh stalking gambar-gambar yang memang lebih mudah dan cepat menarik daripada tulisan. Kalau kata tokoh di sitcom Two Broke Girls dulu, Instagram is Twitter for people who can't read. Tapi kan ada caption? Let's be honest, berapa persen dari kita yang mencurahkan tulisan di caption? Saya juga yakin pasti ada aplikasi semacam caption generator untuk kata-kata mutiara.

Indera visual kita dirangsang sedemikian menariknya hingga kita lupa membaca. Buktinya? Lihat saja headline media massa online yang kian memprihatinkan karena saking noraknya. Gimana caranya agar judulnya sebombastis mungkin agarpembaca mengklik linknya. Namun, headline yang sedemikian bombastis ini justru menjadi pisau bermata dua, karena bukannya diklik dan dibaca, malah banyak orang yang asal komen di link atau postingannya tanpa membaca konten beritanya terlebih dahulu. Kita telah terbiasa dengan rangsangan visual cepat sehingga seolah tak ada waktu untuk benar-benar membaca isi artikel. Akibat makin rendahnya kesadaran membaca ini, berdampak pada menurunnya pula kualitas penulisan. Dulu saya jarang menemui orang yang menulis tidak mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekarang? Ada teman saya yang lulusan S2, bahkan dia masih terbalik antara penulisan di- yang dipisah ataupun digabung. Kadang saya heran kok bisa dia lulus tesisnya jika sebuku isinya salah penulisan semua.

Kegalauan saya akan menurunnya daya tulis ini menggugah saya untuk menulis kembali, menghidupkan blog saya yang mati suri ini. Saya tahu sih skill nulis saya juga nggak bagus-bagus amat, tapi minimal dengan terus menulis saya bisa makin mengasah skill. Saya targetkan minimal dalam seminggu ada 2 tulisan, entah sekadar tulisan pendek yang nyampah ataupun tulisan panjang serius.

Semoga bisa istiqomah!

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...