Tuesday, February 11, 2025

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist History yang berkisah tentang mengapa tim hoki muda Kanada diisi oleh anak-anak kelahiran awal tahun. Hal itu sangat mind-blowing bagi saya (saya ingat bahwa saya mendengarkan itu ketika sedang belanja di Coop di Lund dan saya bahkan sempat berhenti berjalan dan menyimaknya).

Beruntungnya setahun kemudian saya menemukan buku ini di perpustakaan Cinta Baca di Bogor. Ternyata buku ini tidak hanya memuat kisah tentang tim hoki tersebut, tapi juga banyak kisah dan kejadian lain yang menunjukkan bahwa meritokrasi bukanlah segala-galanya. Disertai dengan berbagai referensi jurnal dan penelitian (yang mungkin kadang terdengar cocoklogi tapi mashok), saya jadi lebih percaya akan hipotesis maupun argumentasi yang disajikan karena masuk akal.



(Sumber: https://www.goodreads.com/book/show/3228917-outliers)

Selama ini yang saya tahu kejeniusan itu penting untuk kesuksesan, serta okelah background privilese keluarga yang kaya juga pasti memengaruhi sehingga kehidupan seseorang tidak start dari nol. Namun ternyata di buku ini dibahas bahwa kesuksesan itu juga kombinasi dari faktor kesempatan dan keadaan. Hal ini dicontohkan pada kasus tim hoki Kanada, Bill Gates, Bill Joy, The Beatles, anak-anak IQ jenius, dan berbagai pengacara keturunan Yahudi pada tahun tertentu.

Kita bisa jadi hanya beruntung (atau tidak beruntung) ketika dilahirkan pada tahun tertentu di situasi ekopolsusbudhankam tertentu. Selain itu, apabila dikombinasikan dengan ketekunan mengasah sebuah skill hingga 10.000 jam, tentunya hal ini menjadi kekuatan yang luar biasa. Jenius itu bagus, tapi tidak lantas jenius = sukses, banyak juga yang sukses tapi bukan orang jenius. Beberapa hal lain yang bisa memengaruhi antara lain adalah daya imajinasi, skill asertif, bahkan latar belakang keluarga. Berbicara mengenai latar belakang keluarga, sebetulnya saya sudah lama berasumsi bahwa keluarga kaya pasti memiliki head start daripada yang tidak kaya. Saya kira itu ya jelas karena uangnya, tapi buku ini menyadarkan saya bahwa yang membedakan adalah orang kaya memiliki kemampuan untuk mengenali hak mereka. They know that they deserve it, and they can fight to earn it. Sedangkan orang miskin cenderung pasrah dengan keadaan, sehingga ketika mereka terbentur akan sesuatu mereka hanya akan menerima dan bahkan tidak tahu bahwa bisa jadi ada jalan lain atau metode lain yang bisa ditempuh untuk mencapai keinginan mereka.

Saya kira bab ini saja sudah sangat membuka mata, ternyata ada bab lanjutan yang menyampaikan bahwa perbedaan warisan budaya juga berpengaruh, seperti yang dicontohkan pada berbagai kasus kecelakaan pesawat terbang, konflik horizontal penduduk desa, hingga mengapa anak dari Asia cenderung lebih jago matematika daripada anak-anak Barat. Hal ini saya rasa rawan akan stereotip, tapi ya ternyata memang budaya itu dibentuk selama ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun, jadi wajar saja apabila hal itu sangat berpengaruh (bayangkan aksen, pasti semua orang punya kan?). Pengaruh Power Distance Index juga penting, hal ini sangat bisa saya pahami ketika saya kuliah ke luar negeri dan merasakan perbedaan budaya dan pemikiran yang berbeda dengan Asia. 

Buku ini mengajarkan saya untuk ikhlas dan rendah hati dengan keadaan saya, karena kondisi saya saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh kerja keras saya semata, melainkan lingkungan juga. Saya jadi mengamini teori bahwa manusia memang tidak memiliki freewill, kita tidak bisa memilih mau jadi seperti apa karena ya dari lahir settingan kita seperti ini. Saya jadi turut mengucapkan selamat terhadap kesuksesan orang lain dan juga memiliki empati terhadap yang kurang sukses, karena ya kadang masalah hoki akan keadaan, kesempatan, dan warisan budaya saja. Sangat saya rekomendasikan karena membuat kita jadi lebih humble dan ikhlas tapi juga jadi tahu ada banyak jalan menuju kesuksesan. 10/10.


Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...