Thursday, January 10, 2019

Birthday = Overrated

*tulisan ini saya buat kala hari ulang tahun saya pada Oktober 2018*

Hampir semua orang yang saya kenal tidak tahu kalau kemarin tanggal saya berulang tahun ke-29. Memang tanggal ini tidak saya ekspos di medsos. Saya pun nggak pernah upload foto2 perayaan ultah, wong memang tidak pernah dirayakan. Yang tahu hanya suami, keluarga, sahabat saya Carissa, dan teman-teman kantor. Itupun karena saya traktir gorengan di kantor dan tanggal ultah kami semua memang dituliskan di kalender khusus kantor. (anehnya malem-malem tiba-tiba ada kawan SD yang sudah lama sekali MIA kontak saya dan mengucapkan ultah. Rupanya dia ingat saya ultah bulan ini. Kok ya pas harinya. Birthday miracle?)

Selayaknya ritual ulang tahun, saya punya rasa syukur dan harapan untuk ke depannya. Yang paling saya syukuri adalah hingga di usia kepala 2 terakhir ini alhamdulillah saya tidak punya konflik ataupun drama dengan siapapun. Ya iyalah wong saya nggak punya kehidupan sosial 😂. Tapi beneran deh, mungkin karena semakin beranjak tua saya makin 'chill' dan tahan cibiran. Saya menghindari konflik dengan siapapun. Kalau saya nggak setuju dengan seseorang saya memilih diam daripada membantah kesalahannya dan menyebabkan konflik (ya memang ini salah satu resolusi 2018 saya: kalau tidak perlu-perlu banget, diam aja nggak usah komentar).

Keluarga besar pada memberi selamat dengan embel-embel klasik: semoga cepat punya momongan, selayaknya wanita normal lain (..... ya kan? 😂). Hmm, saya apresiasi aja sih, ya saya aminin aja, but I definitely know, not now yet. Cuma suami saya aja yang ucapannya anti mainstream: semoga cepat kaya 😂. Ya saya jawab, "Ya bantu aku dong biar cepet kaya!" 🤣

Nah inilah yang bikin saya males majang hal berbau ultah : klise. The same old "god bless", "semoga sukses sehat selalu", atau yang lebih buruk lagi, "WYATB". Seriously, what the hell does that stand for? Do you even mean it?? Belum lagi teman-teman (yang belum tentu kita kenal juga) yang ngasih selamat di facebook pake template warna-warni. Saya penasaran, apakah orang-orang ini sungguh-sungguh dengan tulus memberi selamat atas kelahiran kita? Atau cuma biar tetep eksis, atau cuma default aja 'ada orang ultah ya dikasih selamat'? Karena itulah saya lebih memilih tidak ada yg mengucapkan selamat daripada mengucapkan tapi cuma basa-basi saja.

Apa harapan saya? Well saya harap di usia ini saya bisa makin dewasa & bijaksana (because i feel I'm not adult enough), kurang-kurangin nyinyir dan SJW (yang ternyata melelahkan saya dan mengganggu suami saya 😂), dan yang penting: jadi kaya! 😂

Saya memang nggak suka dirayakan ultahnya sih. Saya nggak nyaman menjadi pusat perhatian, kecuali ketika saya sedang pidato atau tampil ngeband. Di luar itu, hell no. Selain itu menurut saya perayaan ultah itu semu sekali. Saya disalamin selamat ultah, makan-makan sedikit traktirannya, dan sudah. Kembali ke kesibukan masing-masing. Well birthday is supposed to be a special day, right? It's just weird that the special moment only lasted for a few minutes, not the whole day. Selain itu pesta menghabiskan banyak biaya dan menghasilkan sampah yang nggak perlu, buang2 uang, dan mengotori lingkungan. Yes i am that over thinking. Makanya saya lebih memilih menghabiskan waktu bersama suami saja di hari itu karena hanya dia yang mau mencurahkan harinya khusus untuk saya dan apapun kegiatan yang saya mau. Entah makan, jalan-jalan, atau sekedar ngopi bareng.

Meskipun demikian, saya hanyalah perempuan biasa yang kadang-kadang ingin di-surprise-in wkwkwk. Kadang jauh di lubuk hati saya ingin di suatu ultah saya entah yang keberapa, someone actually throw a surprise special to me. Heck, saya bahkan masih ingin diberi hadiah, just like any other girls. Tidak dapat dipungkiri, kadang saya iri kalau ada teman yang pamer hadiah ultah, ataupun ada temen yang susah-sudah nyari kado untuk temannya yang lain. I can't help but wonder, why does no one give me a gift? Ya tapi gimana mau ngasih wong tanggalnya aja dirahasiakan 😂. Makanya sekalian aja deh saya nggak mau masang tanggal ultah biar nggak ngarep yang enggak realistis. Bahkan suami saya aja nggak ngasih apa-apa. Hadiah ultah terakhir (entah di tahun berapa) yang saya terima adalah helm, itupun helm bekas beli di Comboran 😑. Ya itu aja udah bersyukur sih, dikasih sesuatu yang memang saya perlukan. Makanya setiap dia ultah saya nggak ngasih kado, soalnya nanti saya pasti berharap something in return, which is never going to happen. Dan dia fine-fine aja meskipun nggak dikasih, huh jadi nggak ada alasan pamrih deh.

Yah bagaimanapun juga, ultah ini adalah ultah yang spesial, karena hari ini hingga setahun ke depan adalah saat terakhir di mana saya masih berusia kepala 2. Usia cukup tua tapi masih bisa dibilang muda karena belum 30-an. Wajah saya memang stuck di usia 20-an awal, tapi saya tetap harus menjalani usia 29 ini dengan penuh kedewasaan. Namun demikian, inilah saat terakhir di mana saya bisa mengklaim saya umur 20an dengan bangga, so let's just enjoy the ride! Welcome my 29th year of life!

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...