Friday, December 14, 2018

Menulis Lagi!


*bersihin sarang laba-laba*

Whew, long time no write! It feels good to come back to my blog, kayak reuni sama teman lama :)

Dulu sekitar tahun 2005-2015an ketika Instagram belum sepopuler sekarang, hobi yang dianggap ngetren adalah menulis alias ngeblog. Entah curhatan nyampah, ilmu pengetahuan, hingga sekedar esai ringan; punya blog dianggap sebagai suatu bukti kompetensi intelektual (dan kerennya) seseorang. Blogspot, WordPress, LiveJournal, dll menjadi platform utama, sebelum netizen jaman sekarang curhat di instastory atau bikin thread di Twitter. Saya pun dulu cukup suka menulis. Maklum, waktu itu masih masa sekolah, di mana kita masih sering berkutat dengan buku, diskusi, dan tugas yang mengharuskan kita menulis sesuatu. Secara tidak langsung otak kita terus-menerus dirangsang untuk berpikir dan menuangkannya dalam sebuah produk. Selain itu, berbagai dinamika masa muda yang saya lewati juga menjadi inspirasi saya dalam menulis. Beberapa tulisan saya juga pernah saya unggah di blog ini, selain sebagai platform abadi untuk saya, hal ini juga berfungsi untuk senantiasa mengingatkan saya agar jangan berhenti membaca dan menulis.

Namun faktanya, semakin banyaknya distraksi dalam kehidupan membuat saya (dan mungkin banyak orang juga) mulai tidak sempat menulis. Ketika Internet makin mudah dijangkau, justru saya menggunakannya untuk browsing macam-macam. Ketika Twitter booming saya masih sempat menulis, karena toh platform Twitter dirancang pada awalnya hanya untuk tulisan alias tweet. Namun ketika semua medsos berlomba-lomba menambah fitur, kita makin disibukkan oleh penggunaan fitur tersebut, membagikan apa yang mungkin nggak perlu banget untuk dibagikan. Apalagi ketika Instagram populer, hari-hari kita diisi oleh stalking gambar-gambar yang memang lebih mudah dan cepat menarik daripada tulisan. Kalau kata tokoh di sitcom Two Broke Girls dulu, Instagram is Twitter for people who can't read. Tapi kan ada caption? Let's be honest, berapa persen dari kita yang mencurahkan tulisan di caption? Saya juga yakin pasti ada aplikasi semacam caption generator untuk kata-kata mutiara.

Indera visual kita dirangsang sedemikian menariknya hingga kita lupa membaca. Buktinya? Lihat saja headline media massa online yang kian memprihatinkan karena saking noraknya. Gimana caranya agar judulnya sebombastis mungkin agarpembaca mengklik linknya. Namun, headline yang sedemikian bombastis ini justru menjadi pisau bermata dua, karena bukannya diklik dan dibaca, malah banyak orang yang asal komen di link atau postingannya tanpa membaca konten beritanya terlebih dahulu. Kita telah terbiasa dengan rangsangan visual cepat sehingga seolah tak ada waktu untuk benar-benar membaca isi artikel. Akibat makin rendahnya kesadaran membaca ini, berdampak pada menurunnya pula kualitas penulisan. Dulu saya jarang menemui orang yang menulis tidak mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekarang? Ada teman saya yang lulusan S2, bahkan dia masih terbalik antara penulisan di- yang dipisah ataupun digabung. Kadang saya heran kok bisa dia lulus tesisnya jika sebuku isinya salah penulisan semua.

Kegalauan saya akan menurunnya daya tulis ini menggugah saya untuk menulis kembali, menghidupkan blog saya yang mati suri ini. Saya tahu sih skill nulis saya juga nggak bagus-bagus amat, tapi minimal dengan terus menulis saya bisa makin mengasah skill. Saya targetkan minimal dalam seminggu ada 2 tulisan, entah sekadar tulisan pendek yang nyampah ataupun tulisan panjang serius.

Semoga bisa istiqomah!

No comments:

Post a Comment

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...