Pengalaman nonton konser kedua saya adalah the big festival
of Java Rockin Land tahun 2009. Acara ini mirip Java Jazz, tapi bedanya ya
musiknya rock/alternatif. Banyak artis lokalnya, namun juga ada artis luar
negeri.Yang buat saya ngebet banget nonton ini karena salah satu line-upnya
adalah Mr.Big! Musisi legendaris yang lagu2nya saya suka sekali sejak kecil,
yang masing2 personelnya sungguh berbakat (dan Paul Gilbert yang ganteng),
yang usianya sudah mulai veteran sehingga belum tentu mereka bisa dan mau ke
Indonesia lagi.
Masalahnya waktu itu adalah saya masih mahasiswa, jadi duit
dari mana buat beli tiket nonton? Lalu akomodasi ke jakarta? Kalo nginep dan
makannnya sih gampang, bisa numpang di rumah om saya di depok. Lagian om dan
tante saya itu juga mau nonton (mungkin karena om dan tante saya nonton jadi
saya semakin ngebet untuk nonton juga). Tapi ya bermodalkan nekat dan sedikit
uang tabungan saya minta orang tua, dengan dalih acara itu juga bertepatan saat
liburan kuliah, jadi itung2 bayarin anaknya liburan heheheheeheh . Untungnya
sama orang tua diijinin (dan dibayarin), berbekal atas kepercayaan saya yang
mandiri ini (tsah) dan toh di sana saya bakal tinggal di rumah om.
Maka saat H-2 berangkatlah saya ke Jakarta naik kereta Gajayana. Sepanjang perjalanan
saya senang namun juga sedikit khawatir, nanti di Jakarta mau ngapain aja ya,
karena saya sampai di sana saat H-1, jadi masih ada waktu senggang untuk main
keliling Jakarta. Begonya saya waktu itu, saya nggak benar2 riset mengenai
tujuan wisata lain ke sana, saya hanya terbayang akan nonton konser seharian!
Nggak tau deh di sana tar mau ngapain, improvisasi saja.
Sesampai di stasiun saya sudah disambut oleh om. Ya emang mama
udah pesenin om sih supaya nantinya saya dijemput. Sebenernya pinginnya sih
mandiri aja, nanti gampang lah nyari akomodasi ke depok gimana. Well setelah
sampai di Gambir saya sungguh bersyukur nggak gengsi begitu, abis saya bener2
ga ada bayangan ini musti naik apa ke mana -_-. Kata om kita bisa naik KRL ke
depok, namun ternyata KRL yang lewat gambir masih lama. Jadi kami naik busway
ke stasiun lain entah apa saya lupa, baru naik KRL ke depok.
Yah nggak penting dan nggak ingat juga sih saya, apa yang
saya lakukan di hari itu. Yang saya ingat ya saat hari H tiba, today i will
witness the legends with my very own eyes and ears! Dari pagi sudah semangat
deh nggak sabar pingin berangkat. Sebenernya saya pingin nonton dari pagi, toh
tiketnya untuk harian (nggak mau rugi dong). Namun karena om dan tante nggak
mau capek dan ingin berangkat siang, ya mau nggak mau saya ngikut aja :(
Siang itu kami naik taksi ke Ancol. Sebenernya saya pingin
langsung ke venue, Pantai Festival, namun om dan tante memutuskan untuk
keliling2 Ancol dulu. Mungkin maksudnya mau nunjukin ke saya yang orang ndeso
ini gimana Ancol itu, haha ya sudahlah sekalian jalan.
Typical foto orang yang jalan-jalan ke Ancol:
Setelah agak sorean baru kami berniat untuk meluncur ke venue.
Namun kami bertiga saling pandang, Pantai Festival itu di mana ya? Hahahah
ternyata nggak ada satupun dari kami yang riset dulu. Awalnya kami pede aja
jalan ke suatu arah, namun karena tampaknya makin jauh makin tidak terlihat
atmosfer konser, maka kami pun bertanya ke orang-orang. Dan mungkin karena
Ancol itu luas, orang-orang yang kami tanyai tidak ada yang memberi jawaban
yang memuaskan. Kami tanya Pantai Festival aja nggak tau, gimana mau ditanya
venue konser coba.
Padahal nemu signage ini, namun ternyata posisinya
jauuuuuuuuh banget dari sini.

Kami putuskan untuk menunggu shuttle bus, namun busnya tak
kunjung lewat. Tak kurang akal, kami coba berjalan ke arah sebaliknya sambil
lihat secara jeli jika ada tanda-tanda ataupun hinga-bingar suara musik.
Setelah berjalan cukup jauh kami mulai melihat beberapa orang mengenakan
t-shirt gambar Mr.Big. Aha, ikuti saja mereka! Ternyata benar, semakin jauh
kami pun bertemu dengan semakin banyak pemakai kaos Mr.Big. Spanduk dan baliho
sudah mulai terlihat, kendaraan sudah mulai padat, yeay kami berjalan ke arah
yang benar! It feels soooo much fun to walk with people who also wear rock
attributes and have a same music taste in common, we can feel the joyful
atmosphere. Momen menuju arena ini juga lah penyebab saya suka nonton konser,
seolah melakukan perjalanan bersama-sama gitu. Mungkin orang naik haji juga
kayak gini ya senengnya, asiknya serombongan dengan segitu banyak orang untuk
mencapai tujuan yang sama.
Anyway, setelah melalui perjalanan yang melelahkan akhirnya
kami sampai juga di arena. Whoaaa benar-benar acara musik besar, sungguh penuh
orang! Kami melewati pengecekan tiket yang berlapis. Di sini saya mulai
mempelajari tahap-tahap pengecekan berlapis dan peraturan konser yang menjadi
standar keamanan, antara lain pengecekan barcode tiket, dilarang membawa air
minum,dilarang membawa kamera profesional (DSLR). Setelah melalui pengecekan
kami masuk ke gang menuju arena. Di gang tersebut isinya para sponsor besar
macem sponsor rokok, minuman, dll yang modal banget boothnya. Pake SPG dan
orang2 yang berpakaian dan dandan aneh2 gitu lah.
Contoh booth sponsor (eh saya nggak maksud ngiklanin lho)
Setelah menyusuri gang sponsor tadi sampailah kami di lantai
pasir Pantai Festival. Whoaaaaaa itu stage utama gede dan terlihat
berkilau...duh terharu deh bayangin tar om-om favorit saya bakal main di sana.
Selain stage utama ada stage-stage lain untuk band yang less pro/less famous.
Hebatnya tuh setiap stage nggak mengganggu kualitas musik stage yang lain,
artinya ketika kita menyimak performance stage A maka orang yang di stage B gak
bakal terganggu oleh hingar bingar si musisi stage A. Saya masih penasaran
mengenai sistem multistage begini, gimana ngaturnya.
Karena Mr.Big masih lama mainnya, maka kami jalan2 aja di
sekitar venue. Ada booth yang jual merchandise, musti beli dong biar ada
pembuktian di kampung hihi. Saya beli gelang rubber dan tshirt putih bergambar
typography nama band-band yang perform di festival itu, trus di tengahnya ada
gambar bass yang membentuk X. Uh keren banget dah, apalagi waktu itu saya
kebetulan emang posisinya bassist, pas banget. Kelar beli kami ke sebuah arena
untuk foto-foto. Jadi bentuknya berupa platform dengan poster karton para band
internasional yang perform dalam ukuran yang sesungguhnya (ini apa ya namanya,
lupa saya). Uh rame banget yang di Mr.Big, musti antri untuk bisa foto di situ.
Sambil nunggu foto-foto deh di karton yang less popular macem Melee dan Secondhand
Serenade hihi.
Setelah antri nunggu sukses juga foto di sini. Sayang langit
sudah gelap, jadi jelek banget dah foto disorot spotlight gini.
( Kalo itu real-size berarti saya masih segitunya Billy Sheehan dong, padahal dia pose duduk :| )
Puas foto-foto perut kami mengirim sinyal keroncongan, oke
lah jalan2 di sponsor-sponsor makanan, nyari makanan. Lupa deh waktu itu beli
makan apa, yang jelas selama jalan2 itu kami kadang ketemu artis. Saya juga
nggak inget ketemu siapa aja, tapi yang membekas adalah saya ketemu Nissa
Omelette, widiiih satu-satunya Bass Heroes cewek, masih muda pula *in awe
Abis makan kami keliling2 stage. Lumayan lah nonton beberapa
band lokal, pemanasan sebelum nonton om-om. Di tengah asyik nonton si tante
kebelet nyari toilet, ya udah kami mundur nyari-nyari toilet. Namun tante nggak
mau toilet berjalan, maka kami ke Segara Cafe di belakang Pantai Festival. Yah
lumayan lah sambil menikmati suasana cafe meskipun nggak beli apa2, cuma
berdiri di serambinya aja. Ada Ten2Five juga lagi perform, asik deh numpang
nonton gratisan gini hihihi.
Kelar dari toilet kami duduk-duduk aja ngemper di teras
pintu belakang cafe. Mau jalan ke Pantai Festival capek, pingin agak hening
sebentar sambil memandangi hingar bingar keriaan di kejauhan.
View dari emperan kami. Enak sih memandangi acara dari jauh
gini.
THEN THE MAGIC HAPPENS. Tiba-tiba ada mobil minivan yang
lewat di depan kami. Awalnya sih kami nggak merhatiin, paling-paling mobil cafe
yang nurunin barang di loading dock belakang. Eh trus pas pintunya dibuka
turunlah sesosok bule gondrong yang tingginya nggak wajar. Om saya yang pertama
nyadar, “Itu kok kayak Billy Sheehan.....”. Spontan kami langsung melihat ke
arah van. Benar saja, kemudian Eric Martin turun, lalu Pat Torpey, lalu Paul
Gilbert, astagaaaaagsfasfaghgahjagjhgas ituuuu om-om turun dari mobil hampir 2
meter di depan kami!!!
Kami nggak percaya, ini seperti mimpi bisa melihat Mr.Big
sedekat itu. Beberapa orang lain yang ada di sekitar kami juga tercengang, lalu
mulai bersahut-sahutan, “Mr.Big! Mr.Big” Lalu kami semua merubungi mereka,
namun tak ada satupun yang berani menyentuh mereka. Saya juga terpana, Subhanallah
walhamdulillah, nggak percaya mereka semua berjalan di depan saya. Billy
Sheehan is freakin tall! Eric Martin is surprisingly short, Pat Torpey looks
muscular as always, and Paul Gilbert...he wears his famous orange overall and
he is totally GORGEOUS....ABSOLUTELY HANDSOME! Nampaknya mereka hendak
melakukan press conference di Segara Cafe, karena mereka langsung berjalan
menuju lorong pintu cafe. Tante saya bilang nggak sabar, “Foto! Foto!” Sambil
masih memandangi mereka saya mencet2 hp dalam rangka memotret, gee where is the
goddamn camera icon when i need them the most??!!. Namun karena mereka berjalan
sangat cepat sebelum saya berhasil memotret mereka sudah sampai di ruangan
press conference. Ahhh the magic minutes of my life is gone. Kami semua para
fans yang kaget masih terpana, in shock, nggak percaya idola kami baru aja
berjalan di depan kami, within our reach. Dan setelah shock saya pulih saya
baru sadar kalo waktu itu saya sebenernya lagi pegang camdig, tinggal pencet on
dan jepret, namun karena shock jadi bener2 blank. Grrrrrrrrrrrrrr nyeselnya
masih brasa sampai hari ini!
Karena mereka sudah masuk ruang press conference yang mana
kaca semua tapi penuh banget sama pers dan kamera sehingga kami nggak bisa
melongok intip-intip mereka, akhirnya kami pasrah saja dan kembali ke venue.
Langkah kami masih lemas, masih nggak percaya akan keajaiban yang baru saja
terjadi. Kami saling menertawakan ekspresi terpaku kami tadi, serta kebodohan
karena nggak ada satupun dari kami yang memotret..haha.
Mr.Big sudah tiba, namun waktu performance mereka masih
lama. Kini giliran Secondhand Serenade yang maju ke tampil di main
stage, musisi (band atau solois sih?) genre pop-emo yang lagi happening di kawula
muda (entah karena liriknya yang galau abis, vokalnya yang serak-serak emo,
atau wajahnya yang lumayan bisa dilihat). Sebelum ke Jakarta saya sudah
dengerin albumnya sih, jadi lumayan bisa menikmati dan singalong, nggak kayak
om dan tante saya yang betenya setengah mati karena Mr.Big masih lama mainnya.
Singkat cerita yang ditunggu-tunggu akhirnya tampil juga.
Awalnya lampu dimatiin dan iklan sponsor dinyalain dan dikencengin banget untuk
menarik para penonton. Penonton yang rata-rata udah om-om langsung
menyemut di depan main stage, melongok
ke arah stage dan celingukan, kali-kali keliatan bayangan Mr.Big lewat. Kami
semua sangat antusias, kami meneriakkan nama Mr.Big untuk memanggil mereka
segera.
Suasana makin riuh ketika lampu mulai dinyalakan dan satu
persatu para personil muncul di panggung. Oooh that moment, so epic. Kami semua
berteriak-teriak kegirangan, saling meneriakkan nama masing-masing personel.
Yang bawa kamera dan hp mulai merekam aksi mereka. Saya sendiri pun rasanya
sangat gembira, nggak percaya the living legend was finally stand after us, I
witnessed them with my very own eyes. Terharu campur senang, brasa kok air mata
yang ketahan dan gemuruh di dada ini karena euforia...uwaah. Billy Sheehan
dengan celana merah ketatnya yang ngejreng dan bass warna hijau selalu memainkan
bassnya dengan sangat aktif, kadang berlari-lari juga. Pat Torpey menggebuk
drum dengan bersemangat sambil tak henti-hentinya tersenyum. Paul Gilbert yang
ganteng dengan overall orange-nya juga sangat aktif di panggung sambil sesekali
menyapa penonton. Demikian pula dengan Eric Martin, my number one vocalist
karena suara serak-serak basahnya yang powerful sekaligus seksi, nggak
capek-capek nyanyi dan berkomunikasi dengan penonton.
Yah karena kejadiannya 2009 kemarin saya jadi nggak ingat
setlistnya..hihi. Yang jelas sih lagu-lagu hitsnya dimainkan semua,macem Wild
World, Going Where The Wind Blows. Nggak ketinggalan the mainstream song, To Be
With You, lagu yang paling sukses bikin koor massa berjamaah, nggak cewek nggak
cowok nggak muda nggak tua. Ada beberapa lagu baru juga sih tapi nggak banyak,
syukurlah karena memang saya lebih suka dan familiar dengan lagu-lagu lawasnya.
Konser berlangsung selama 2 jam, nggak brasa akhirnya konser
berakhir jam 00.30. Puas tapi capek, setelah encore terakhir (yang bahkan saya
gak ingat lagu apa itu, ugh) dan nggak ada acara lempar-lemparan properti sang
musisi, kami pun meninggalkan area penonton. Maunya saya sih stay aja di situ
soalnya jam 01.00 ada Mew yang saya juga sukaaaaaaa banget, namun karena om dan
tante sudah super capek dan tepar terpaksalah kami pulang T________T. Pulang
sambil memboyong merchandise konser dan terbayang momen magic bertemu mereka di
cafe serta performance mereka yang sangat enerjik dan gak kenal lelah, kami
tertawa-tawa sambil membahas konser tersebut hingga esok harinya. A super
memorable concert!
EPILOG-------------------------------------------------------------------------------------------
Oh iya di sini juga saya belajar pengalaman konser di
festival. Karena memang lokasinya di pantai luas begitu dan konsepnya festival
(dan ini kan festival rock), ya jadinya nggak ada tribun atau seated area,
semua plong festival gitu alias berdiri di depan panggung. Ya logicnya sih
emang harusnya semakin ke depan kita semakin bisa liat tampang si artis,
sukur-sukur kalo di akhir konser mereka bagi-bagi pick atau stick drum jadi
peluang dapetnya makin besar. Ya kami juga mikir gitu awalnya, kami harus
berada di bagian depan-depan biar bisa liat dengan jelas. Namun setelah konser
mulai, barulah brasa sumpeknya di area tersebut karena hal-hal sebagai berikut:
- Awalnya
waktu si artis belum muncul kami semua santai aja berdirinya, nggak terlalu
semangat ke depan. Namun saat si artis muncul, SEMUA orang merangsek ke depan, rebutan
spot di paling depan, jadilah kami kejepit dan terhimpit orang-orang (baca:
om-om). Belum lagi kalo ada yang bau keringat, ada yang teriak-teriak di
kuping, ada yang nutupin pake kameranya, beuh.
- Badan saya yang pendek ini nggak bisa lihat
dengan jelas karena ketutup punggung dan kepala orang di depan. Jadi kalo
digambar secara matematis nih sudutnya semakin tumpul, saya makin nggak bisa lihat
si artis, apalagi panggung karena range jarak pandang yang sempit.
- Gabungan dari poin 1&2, terhimpit dan nggak
keliatan apa-apa, dijamin bikin puyeng dan gerah yang lama-lama menimbulkan
panic attack dan sesak napas dan pingsan.
Awalnya saya betah-betahin aja di spot saya, kan susah ngedapetin
spot agak di depan (nggak mau rugi). Tapi lama-lama saya gak tahan
gerahnya, dan ya yang namanya napas itu kebutuhan primer makhluk hidup,
akhirnya lama-lama kami mundur teratur deh (tante saya juga mengalami keluhan
yang sama soalnya dia lebih pendek dari saya, sedangkan om adalah suami taat
istri, begitulah). Awalnya nyeseeeeel banget mundur, saya mikirnya, ‘yaaah
goodbye om Eric, jauh-jauhan deh sekarang’. Namun apa yang terjadi, ternyata IT’S
COMPLETELY FINE. Kenapa?
- Dengan berada di belakang kita bebas menghirup
udara segar tanpa harus rebutan oksigen dengan kerumunan orang yang sangat
padat. Jauh lebih aman dan nyaman, nggak kejepit, nggak kebau bau badan orang,
nggak gerah.
- Dengan berasa belakang maka sudutnya makin
lancip dan pandangan saya bisa lebih luas rangenya. Saya bisa lihat keseluruhan
panggung, nggak fokus ke satu orang aja. Tapi kan kita nggak bisa fokus ke
wajah dan cara si musisi memainkan instrumennya? Oh nggak apa-apa kok, karena
setiap EO pasti menyediakan big screen, jadi kita masih bisa lihat big screen
di kiri kanan. Malah screen ini lebih fokus ke tangan dan wajahnya, jadi bisa
keliatan jelas.
- Intinya kita justru lebih fokus ke pengalaman
bermusik rather than sekaligus berusaha tetep survive dan sadar dan nggak
pingsan.
‘Yaaaaaaaa emang kalo gini sih sama aja kita lihat DVD di rumah?’ Eits tetep beda dong. Kalo nonton di rumah kan nggak brasa atmosfer kebersamaan sesama pecinta a particular musician, nggak brasa dentuman sound system gantung (kecuali home theater anda sangat-sangat mahal dan canggih), nggak bisa ikutan teriak-teriak dan merasakan excitement lihat live secara langsung, merasakan dengan indera kita.
‘Ah tetep percuma dong kalau nonton live tapi nggak deket-deket si artis!’ Jadi ya kalau anda ngotot tetep pingin di depan (apalagi garda depan yang berbatasan dengan pagar pengaman), bener-bener siapin stamina yang kuat dan fit (bedanya apa sih). Bayangin aja gimana rasanya didorong ratusan hingga ribuan orang gitu. Apalagi inget, beberapa konser nggak memperbolehkan penonton bawa botol minuman (namun kadang hal ini disebabkan di dalam sudah ada stand sponsor minuman yang harganya berlipat kali lebih mahal -_-). Oh ya satu lagi, kalau anda ngefans banget dan pingin banget di garda depan, anda juga harus datang paling awal karena pastinya rebutan spot sama yang lain. Kalo perlu datang dari pagi buta. Yakin deh, pasti ada juga fans lain yang datang lebih pagi. Brace yourself, the choice is all yours.