Sunday, March 24, 2013

Book Review: The Tokyo Zodiac Murders


Buku ini terselip di rak deretan novel fiksi, dan saya langsung jatuh cinta dengan judul dan covernya, The Tokyo Zodiac Murders. Sebagai seorang desainer first impression saya adalah pada covernya yang sederhana namun tampak sadis. Background putih polos dengan judul warna merah darah, dan ada tulisan kanji yang keren seperti komik detektif Jepang, serta grafis tubuh beberapa wanita yang dipotong beberapa bagian tubuhnya, seperti kepala, tangan, kaki, dada, dan lain-lain. Simple tapi membawa pesan tentang isi novelnya. Don’t judge a book by its cover they said, namun ternyata memang buku ini sebagus covernya.

(Sumber : http://d.gr-assets.com/books/1340777688l/15724390.jpg)

Novel best seller yang dirilis tahun 1979 oleh Soji Shimada ini ternyata sungguh brilian. Berkisah tentang pembunuhan sebuah keluarga di tahun 1936 yang menjadi misteri tak terpecahkan hingga 40 tahun lamanya, bahkan meskipun kasus ini dibuka untuk umum bagi siapapun yang bisa memecahkannnya. Kasus ini kian fenomenal karena dari tahun ke tahun tidak ada satupun yang bisa memecahkannya, bahkan publik dari berbagai penjuru sudah merilis berbagai teori namun tidak ada yang cocok dengan kasus tersebut dan tidak ada yang menemukan siapa dalang utama pembunuhan berantai ini. Di sinilah letak pemeran utama kita, Detektif Kiyoshi Mitarai dan kawannya yang setia Kazumi Ishioka sebagai sudut pandang orang pertama, yang somehow baru mengetahui keberadaan kasus ini meskipun si Mitarai adalah ahli astrologi.

Halaman awal dibuka dengan surat sang kepala keluarga, yaitu Heikichi Umezawa, yang merupakan seniman introvert yang selalu mengurung diri di studionya tak jauh dari rumah utamanya. Rumah utamanya sendiri dihuni oleh istri kedua, anak perempuan dari istri pertama, anak-anak perempuan dari istri kedua, dan keponakannya. Ia menulis sebuah plot untuk merancang sebuah makhluk sempurna kombinasi berbagai potongan tubuh anak dan keponakannya wanitanya berdasarkan penghitungan astrologi kelahiran mereka, alchemy, dan keadaan geografis Jepang. Makhluk ini ia namakan Azoth, sebagai penjelmaan wanita sempurna baik secara fisik maupun secara penghitungan astrologis. Namun twistnya adalah.......justru Heikichi yang pertama terbunuh di antara keluarganya. Ia dibunuh di studionya, padahal studio tersebut terkunci dari dalam. Selanjutnya pembunuhan berantai menimpa anak dan keponakannya. Yang menjadikan misteri ini kian kompleks, mereka dibunuh tepat sesuai penghitungan dan petunjuk di surat Heikichi. Mereka juga dikubur di tempat-tempat yang sama seperti di surat tersebut. Heikichi terbunuh dalam ruang terkunci, bagaimana sesungguhnya teknik yang digunakan untuk membunuhnya? Kemudian apakah Heikichi punya pengikut yang melanjutkan misinya setelah ia tewas? Atau mungkinkah Heikichi sebenarnya belum mati, dan si jasad di studionya somehow adalah orang yang mirip dengannya? Then if somehow he managed to stay alive, where did he put the Azoth?? Empat puluh tahun berlalu sejak peristiwa ini, beberapa saksi dan tersangka sudah tua ataupun meninggal, menjadikan kasus ini makin sulit untuk dipecahkan. Keahlian astrologi dan kejeniusan Mitarai dalam mengurai masalah demi masalah tersebut akhirnya mampu menuntun mereka dalam petualangan mencari sang pembunuh jenius.

Ada hal menarik di sini ketika sang penulis sengaja membuat surat sebelum menuju bab yang mengungkap misterinya, seolah menantang para pembaca. Saya pribadi benar-benar tidak ada bayangan atau petunjuk tentang pembunuhan itu, sampai kemudian si detektif akhirnya menemukan trik sang pembunuh. Dari sinilah terurai benang kusutnya mengenai siapa tersangkanya dan bagaimana ia membunuhnya. Saking sadisnya saya sampai merinding membaca penjelasan (dan grafisnya), karena pembunuhannya sungguh kejam namun jenius.

Membaca buku ini mau tak mau langsung mengingatkan saya pada Sherlock Holmes. Betapa tidak, si jenius namun eksentrik dan moody Mitarai sangat mirip dengan Holmes, begitu pula sidekick narator Ishioka yang mirip Dr.Watson. Jika Holmes adalah ahli forensik, maka Mitarai adalah ahli astrologi. Jika Dr.Watson adalah seorang dokter, maka Ishioka adalah seorang ilustrator. Menariknya, di salah satu bab sang penulis membawa-bawa nama Holmes dan Watson. Ishioka yang memuja dan membanding-bandingkan Mitarai dengan Holmes kontan dibantah oleh Mitarai yang kemudian menjelaskan beberapa poin mengenai ketidaksukaannya terhadap karakter Holmes.

Menurut wikipedia, novel ini pernah masuk nominasi Edogawa Rampo Award for Mystery Novels, salah satu penghargaan bergengsi tentang novel misteri di Jepang. Dan ternyata, selain novel ini adalah debut Soji Shimada, novel ini juga merupakan debut serial novel Detective Mitarai’s Casebook. Selanjutnya masih berlanjut seri-seri kasus Detektif Mitarai yang lain. If the debut novel is this brilliant, I think it’s worth it to read the rest of the series.

Wednesday, March 20, 2013

Book Review: The Phantom Tollbooth


Mendapat early warning bahwa ini sebenarnya adalah buku anak cukup membuat saya ragu untuk meneruskan membaca novel ini, namun membaca bab awal novel ini ketika diceritakan betapa membosankannya hidup si bocah bernama Milo membuat saya memprediksi bahwa pastinya petualangan yang akan ia hadapi akan sangat menarik. Dan judul tollbooth cukup membuat saya tertarik, tollbooth ke mana? Apa menariknya tollbooth, sebagai apakah perannya di sini?

(Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/0/02/Phantomtollbooth.PNG/200px-Phantomtollbooth.PNG)

Novel berjudul lengkap The Phantom Tollbooth ini ditulis oleh Norton Juster. Sungguh saya tidak tahu kalau ternyata novel ini dirilis tahun 1961 (saya baru googling sebelum menulis review ini). Dikisahkan bahwa Milo menjalani kehidupan sehari-harinya dengan tanpa semangat, karena ia tidak menemukan hal apapun yang menarik dirinya. Sampai suatu hari ia menemukan paket misterius di kamarnya, yaitu berupa bilik tol ajaib. Toh ia tidak memiliki agenda apapun, nothing to lose, maka ia memutuskan untuk melintasinya dengan mobil mainannya. Ternyata bilik tol ajaib ini menjadi gerbangnya ke Kingdom of Wisdom, kerajaan ajaib dengan segudang petualangan yang menakjubkan. Memang judul tollbooth juga bukan berarti cerita berputar di situ, melainkan ini sebagai titik gerbang awal perjalanan Milo.

Petualangan yang disajikan novel ini memang sesuai untuk anak-anak, karena dunia dan kerajaan yang dilintasi oleh Milo bertemakan pendidikan dan moral. Awalnya ia tersasar ke negeri Doldrum di mana berpikir dan tertawa dilarang. Di sini ia bertemu seekor anjing watchdog bernama Tock (literally watchdog, ia punya jam di tubuhnya dan selalu berbunyi tick). Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Dictionopolis, kerajaan berbasis kata-kata dan kalimat yang dikepalai oleh Raja Azaz. Personally i like this kingdom because i love wordplays, di sini dibahas berbagai permainan kata dan sinonim yang menarik. Di sini Milo bertemu dengan Humbug, seekor serangga yang juga akhirnya menjadi kawan perjalannya bersama Tock. Ketika mereka dipenjara di kerajaan ini, mereka diberitahu oleh wanita bernama Which (bukan Witch) bahwa selama ini negara tersebut memiliki konflik terutama dengan negara saudara mereka, Digitopolis milik sang raja matematis The Mathemagician karena para raja sepakat untuk mengasingkan sang putri, Princesses of Rhyme and Reason. Kedua putri tersebut diasingkan karena menganggap bahwa kata dan angka sama-sama penting. Menyadari bahwa keadaan negara menjadi buruk tanpa kehadiran sang putri yang bijaksana, mereka bertiga diutus oleh sang Raja Azaz untuk menyelamatkan sang putri. Di sinilah baru dimulai petualangan yang sesungguhnya, tiga sekawan dengan mobil mainannya.

Sepanjang perjalanan mereka bertemu makhluk-makhluk ajaib seperti Alec Bings, bocah yang hidup di negeri di mana seluruh penduduknya tumbuh dari atas ke bawah, Chroma sang konduktor orkestra warna yang bertanggungjawab atas memainkan harmonisasi warna langit, Dr.Dischord yang bekerja mengumpulkan berbagai suara, dan lain-lain.

Ketika sampai di Digitopolis mereka bertemu dengan Raja Mathemagician. Di sini mereka juga merasakan pengalaman menarik yang bertemakan angka. Mereka juga berhasil meyakinkan sang raja agar sepakat untuk mengembalikan sang putri menjadi penguasa Kingdom of Wisdom.

Setelah melewati Digitopolis mereka mendaki Mountains of Ignorance di mana mereka bertemu berbagai makhluk mengerikan yang berusaha mengejar mereka. Setelah berhasil lolos dari kejaran mereka akhirnya mereka sampai di Castle in the Air dan menjemput para putri. Bersama-sama mereka lari dari kejaran para makhluk dan monster hingga akhirnya sampai di Kingdom of Wisdom. Pada akhirnya seluruh keluarga bersatu kembali dan kerajaan menjadi damai seperti sediakala.

Setelah petualangan berakhir Milo pun bisa pulang dengan melewati bilik tol yang sama. Pada hari berikutnya Milo sudah tidak bisa lagi mengakses tollbooth tersebut, namun petualangan seru itu menjadi pelajaran berarti bahwa Milo, bahwa betapa menariknya dunia ini. Segala warna, suara, kata-kata dan angka yang semula tidak ia hiraukan menjadi terlihat menarik baginya, sehingga ia tidak lagi merasakan bosan dan mulai menikmati dunia yang sesungguhnya.

Meskipun ini buku anak, ternyata saya cukup menikmati novel ini. Permainan kata yang menarik dan makhluk-makhluk yang imajinatif menjadi poin yang menjadi bumbu istimewa. Saya membaca novel ini versi Bahasa Inggris aslinya, jadi saya tidak terlalu yakin jika versi terjemahannya akan bisa menyampaikan makna dan dinamika kata demi kata dengan bagus, karena memang beberapa kata dan sinonimnya (serta berbagai pun literal seperti watchdog, DYNNE, Which, Whether Man) juga tentunya akan lebih nyambung dengan bahasa aslinya.

Ada beberapa hal yang saya kurang menikmati, misalnya adegan penyelamatan sang putri yang menurut saya terlalu gampang, sehingga cenderung agak terasa antiklimaks. Namun karena ceritanya sang putri ini memang bijaksana jadi memang prosesnya juga tidak terlalu berbelit. Bagi saya adegan penyelamatan putri ini bukan inti ceritanya, namun lebih ke happy ending-nya. Cerita menariknya justru terletak di berbagai tempat dan orang yang Milo temui sepanjang perjalanan.

Bagi saya nilai utama novel ini mengajarkan bahwa sesungguhnya isi dunia ini sangat menarik. Berbagai permainan kata, angka, warna, bahkan suara membentuk harmonisasi indah yang kadang kurang kita perhatikan. Overall saya merekomendasikan buku ini bagi anak-anak karena nilai pendidikannya tentang menariknya dunia ini, serta bagi orang dewasa karena fantasi perjalanannya yang cerdas.  

Sunday, March 17, 2013

air flush kloset

Mengapa air flush kloset selalu berputar ke arah yang sama?
Mengapa orang yang membuat jemblem selalu membentuk bola ke arah yang sama?
Apakah itu berarti setiap kompleksitas akan menuju arah yang sama?
Apakah itu berarti adonan pola pikir akan menuju tujuan yang sama?
Karena setahuku pola pikirku sudah terlalu rumit
Butuh sisir raksasa untuk menguraikan otakku
Aku tidak sedih, hanya berputar-putar
Atau juga tidak berputar-putar, melainkan limbung tak beraturan
Butuh kacamata mikroskopis, melihat dari yang pangkal
Buku-buku motivasi laris walaupun tanpa diskon super sale all item
Aku tahu teori, namun bingung implementasi
Aku radikal, tapi aku juga stagnan
Tidak kupungkiri mungkin aku butuh reaktor nuklir untuk fisikku tak peduli berbahaya
Namun asumsi bahwa aku kuat itu lemah
Landasan organisasi individuku sudah buyar
Ada pondasi, namun tak ada sloof yang mengikat
Elevator memang vertikal, mungkinkah aku juga butuh conveyor?
Biar orientasiku tidak hanya ke atas, namun juga ke samping
Mungkin aku memang hanya perlu kembali ke minimalis
Yang sederhana, biasa, namun tidak murahan
Biar omong kosongku dan mereka tidak mengiang-ngiang di kupingku
Biar aroma kemenanganku dan mereka tidak menyengat hidungku



-i wrote this in 2009. and 3 years later i still feel the same.-

Thursday, March 14, 2013

Healing Garden (2)


Setelah di tulisan sebelumnya (yang mana ditulis hampir setahun yang lalu -__-) saya membahas definisi Healing Garden, sekarang saya ingin menuis tentang metode desain healing garden. Masih dari buku yang sama, yaitu Healing Garden: Therapeutic Benefits and Design Recommendation karya Clare Cooper Marcus dan Marni Barnes tahun 1999,  berikut adalah poin-poin yang harus diperhatikan untuk mendesain healing garden:

  1. Program setiap area outdoor secara tepat dan fungsional. Mana yang merupakan area aktivitas, mana yang area taman, mana yang jalur aksesibilitas, dan lain-lain.
  2. Sediakan pilihan bagi para pengguna taman. Nggak semua pasien pingin duduk-duduk aja, ada yang butuh terapi fisiologi jalan di bebatuan, ada yang ingin jalan muter-muter. Nggak semua pasien butuh area yang diteduhi pohon atau shelter, ada pasien yang harus caring alias berjemur matahari sebagai terapinya. Nggak semua staf rumah sakit ingin makan secara berkelompok di meja taman,ada yang ingin duduk aja sendiri di bangku. Sediakan area perkerasan dan rumput, tempat duduk dan tempat jalan-jalan, tempat teduh dan tempat panas, tempat duduk bersama (4 seaters or more) maupun bangku taman biasa, dan lain-lain. Intinya kita harus mengakomodasi berbagai aktivitas pengguna taman dan memberi mereka berbagai pilihan.
  3. Sediakan setting yang bersifat nurturing, memberi kedamaian, dan memberi rasa familiar. Pengunjung taman butuh tempat untuk mengeluarkan berbagai stres dan tekanan yang dialami di dalam bangunan, oleh karena itu ciptakan suasana taman yang nyaman dengan bantuan vegetasi yang cukup, material yang tidak berbahaya, memberi rasa aman dan betah. Kalau suasana di jalanan sangat ramai, berikan suasana taman yang hening dan damai, misalnya dibantu oleh tanaman sound barrier yang tinggi. Ada studi yang unik, dikatakan bahwa sculpture yang berbentuk normal dan nggak aneh-aneh (misalnya bentuk hewan atau bunga) akan lebih bisa diterima daripada sculpture yang terlalu ‘nyeni’, nyeleneh. Misalnya, ada sebuah taman rumah sakit yang memasang patung berbentuk ekor ikan paus. Bagi seniman atau orang yang ngerti seni ya itu mungkin biasa saja, namun bagi pasien bentuk itu menggambarkan seolah si ikan nyemplung ke dalam tanah, mati, dan tinggal ekornya aja yang nongol. Serem kan, memberi sugesti kematian? Begitu juga dengan sculpture bentuk abstrak yang nggak semua orang ngerti artinya, bentuk itu literally bisa bikin para pasien yang udah sakit lebih pusing lagi karena terpaksa jadi ngliatin dan mikir itu artinya apa. Lebih baik memasang sculpture yang standar, yang bisa diterima khalayak ramai. Sukur-sukur aman, bisa buat mainan anak-anak, menghibur secara visual.
  4. Pertimbangkan untuk menggunakan material yang familiar dengan lokalitas. Memang sebenarnya kunci utama untuk menyediakan kenyamanan di taman adalah dengan mengimplementasikan kata kunci familiarity. Yah namanya aja family, keluarga (maksa nggak sih? -_-), jadi dengan adanya kedekatan itu bisa menciptakan suasana aman dan nyaman. Penggunaan material yang sesuai dengan lokalitas selain menciptakan perasaan home sweet home juga bagus secara teori green building karena menggunakan material lokal sehingga nggak mengonsumsi karbon tambahan untuk mendatangkan material dari daerah lain.
  5. Layout taman harus mudah ‘dibaca’. Layout yang terlalu kompleks dan rumit akan menyebabkan beberapa pasien kesulitan untuk membaca petanya, disorientasi. Bisa-bisa malah jadi bingung pintu keluarnya di mana.
  6. Dalam menciptakan taman di tengah courtyard, pertimbangkan dinding perimeter taman sebagai bagian dari desain taman. Inner courtyard merupakan tantangan tersendiri karena adanya tembok yang membatasi pandangan dan gerak pengguna taman. Oleh karena itu dinding harus difungsikan, didesain juga agar selaras dengan desain taman. Misalnya, dinding dicat mural graffiti gambar-gambar yang menarik dan memberi motivasi, di-finish dengan waterwall yang memberi efek gemericik yang menenangkan, atau dijadikan greenwall yang menambah oksigen. Sekarang bikin greenwall nggak susah kok, bisa hubungi kantor saya (ehem promosi di blog sendiri boleh dong ;))
  7. Ciptakan subspaces. Ruang dalam ruang. Dalam area tempat duduk umum,ciptakan beberapa area duduk yang lebih private karena beberapa pengunjung kadang ingin area private untuk meditasi atau simply just going away from all the noises out there.
  8. Ciptakan area bersama/central gathering space. Tempat sosial seperti ini baik untuk para pasien, pengunjung, maupun karyawan yang ingin bersosialisasi. Bagi pengelola rumah sakit area ini juga bisa dikomersialisasikan, misalnya untuk pesta ulang tahun pasien, acara gathering para staff, dan lain-lain.
  9. Tambahkan entry element. Pintu masuk yang jelas dan baik akan membuat orang merasa disambut, merasa terundang untuk memasuki taman.
  10. Ciptakan a sense of enclosure. Rasa perlindungan ini sangat penting karena orang yang ingin di-healing harus dibuat merasa aman. Kesan perlindungan ini bisa diciptakan dengan adanya tanaman barrier pembatas dengan area publik (misalnya tempat parkir di luar), atau area duduk yang diberi pembatas semak berbunga agar mereka merasa aman dan nyaman duduk meditasi di bangku tersebut.
  11. Sediakan overhead protection. Seperti yang dikemukakan di poin nomor 3, pengunjung perlu tempat teduh (apalagi kalau negara tropis yang panas gini yang penduduknya lebih suka ngadem daripada panas-panasan). Peneduh ini nggak cuma berupa pohon rindang, kalo area terbatas bisa juga dengan payung atau atap kain tensile.
  12. Sediakan panoramic view. Ya namanya juga taman, harapannya kan bisa liat pemandangan yang nggak bisa diliat di dalam ruangan. Pilih lokasi yang baik yang memiliki view baik, misalnya ke arah pegunungan. Gimana kalau rumah sakitnya di tengah kota yang semrawut yang malah bikin pusing kalo liat ke luar? Ya ciptakan sendiri view tersebut dengan adanya point of interest yang bagus, misalnya dengan jajaran tanaman berbunga, water feature, atau sculpture yang menarik.
  13. Pertimbangkan view bagi pengguna kursi roda atau gurneys. Harus diukur sedemikian rupa sehingga dengan ketinggian mata tertentu masih bisa dapat view yang bagus.
  14. Desain taman sehingga orang di dalam ruangan yang memandang ke taman bisa merasa seolah-olah dia  turut berada di taman tersebut. Nggak semua orang berkesempatan ke luar menikmati taman, kadang mereka hanya bisa memandang dari jendela. Oleh karena itu jangan tutupi view mereka, beri mereka point of interest sehingga taman tetap bisa dinikmati dan effectively healing meskipun hanya dinikmati secara visual.
  15. Ruang interior dan eksterior harus saling melengkapi satu sama lain. Berikan aksesibilitas yang baik, tema yang masih harmonis dan ‘nyambung’ sehingga ada keterkaitan antara keseluruhan arsitektur bangunan secara holistik, baik ruang luar maupun ruang dalam. 

Intinya dengan sense of control, akses ke area privasi maupun sosial, area yang mengakomodasi gerakan fisik dan olahraga, serta akses ke alam dan garden features yang positif dan familiar akan menciptakan taman yang bersifat healing, karena sejatinya mendesain sebuah healing garden is the intertwining of two conceptual components: a processof healing and a place in which it is supported.


Wednesday, March 6, 2013

My Concerts Experience (2) - with bonus tips


Pengalaman nonton konser kedua saya adalah the big festival of Java Rockin Land tahun 2009. Acara ini mirip Java Jazz, tapi bedanya ya musiknya rock/alternatif. Banyak artis lokalnya, namun juga ada artis luar negeri.Yang buat saya ngebet banget nonton ini karena salah satu line-upnya adalah Mr.Big! Musisi legendaris yang lagu2nya saya suka sekali sejak kecil, yang masing2 personelnya sungguh berbakat (dan Paul Gilbert yang ganteng), yang usianya sudah mulai veteran sehingga belum tentu mereka bisa dan mau ke Indonesia lagi.

Masalahnya waktu itu adalah saya masih mahasiswa, jadi duit dari mana buat beli tiket nonton? Lalu akomodasi ke jakarta? Kalo nginep dan makannnya sih gampang, bisa numpang di rumah om saya di depok. Lagian om dan tante saya itu juga mau nonton (mungkin karena om dan tante saya nonton jadi saya semakin ngebet untuk nonton juga). Tapi ya bermodalkan nekat dan sedikit uang tabungan saya minta orang tua, dengan dalih acara itu juga bertepatan saat liburan kuliah, jadi itung2 bayarin anaknya liburan heheheheeheh . Untungnya sama orang tua diijinin (dan dibayarin), berbekal atas kepercayaan saya yang mandiri ini (tsah) dan toh di sana saya bakal tinggal di rumah om.

Maka saat H-2 berangkatlah saya ke Jakarta  naik kereta Gajayana. Sepanjang perjalanan saya senang namun juga sedikit khawatir, nanti di Jakarta mau ngapain aja ya, karena saya sampai di sana saat H-1, jadi masih ada waktu senggang untuk main keliling Jakarta. Begonya saya waktu itu, saya nggak benar2 riset mengenai tujuan wisata lain ke sana, saya hanya terbayang akan nonton konser seharian! Nggak tau deh di sana tar mau ngapain, improvisasi saja.

Sesampai di stasiun saya sudah disambut oleh om. Ya emang mama udah pesenin om sih supaya nantinya saya dijemput. Sebenernya pinginnya sih mandiri aja, nanti gampang lah nyari akomodasi ke depok gimana. Well setelah sampai di Gambir saya sungguh bersyukur nggak gengsi begitu, abis saya bener2 ga ada bayangan ini musti naik apa ke mana -_-. Kata om kita bisa naik KRL ke depok, namun ternyata KRL yang lewat gambir masih lama. Jadi kami naik busway ke stasiun lain entah apa saya lupa, baru naik KRL ke depok.

Yah nggak penting dan nggak ingat juga sih saya, apa yang saya lakukan di hari itu. Yang saya ingat ya saat hari H tiba, today i will witness the legends with my very own eyes and ears! Dari pagi sudah semangat deh nggak sabar pingin berangkat. Sebenernya saya pingin nonton dari pagi, toh tiketnya untuk harian (nggak mau rugi dong). Namun karena om dan tante nggak mau capek dan ingin berangkat siang, ya mau nggak mau saya ngikut aja :(

Siang itu kami naik taksi ke Ancol. Sebenernya saya pingin langsung ke venue, Pantai Festival, namun om dan tante memutuskan untuk keliling2 Ancol dulu. Mungkin maksudnya mau nunjukin ke saya yang orang ndeso ini gimana Ancol itu, haha ya sudahlah sekalian jalan.

Typical foto orang yang jalan-jalan ke Ancol:



Setelah agak sorean baru kami berniat untuk meluncur ke venue. Namun kami bertiga saling pandang, Pantai Festival itu di mana ya? Hahahah ternyata nggak ada satupun dari kami yang riset dulu. Awalnya kami pede aja jalan ke suatu arah, namun karena tampaknya makin jauh makin tidak terlihat atmosfer konser, maka kami pun bertanya ke orang-orang. Dan mungkin karena Ancol itu luas, orang-orang yang kami tanyai tidak ada yang memberi jawaban yang memuaskan. Kami tanya Pantai Festival aja nggak tau, gimana mau ditanya venue konser coba.

Padahal nemu signage ini, namun ternyata posisinya jauuuuuuuuh banget dari sini.



Kami putuskan untuk menunggu shuttle bus, namun busnya tak kunjung lewat. Tak kurang akal, kami coba berjalan ke arah sebaliknya sambil lihat secara jeli jika ada tanda-tanda ataupun hinga-bingar suara musik. Setelah berjalan cukup jauh kami mulai melihat beberapa orang mengenakan t-shirt gambar Mr.Big. Aha, ikuti saja mereka! Ternyata benar, semakin jauh kami pun bertemu dengan semakin banyak pemakai kaos Mr.Big. Spanduk dan baliho sudah mulai terlihat, kendaraan sudah mulai padat, yeay kami berjalan ke arah yang benar! It feels soooo much fun to walk with people who also wear rock attributes and have a same music taste in common, we can feel the joyful atmosphere. Momen menuju arena ini juga lah penyebab saya suka nonton konser, seolah melakukan perjalanan bersama-sama gitu. Mungkin orang naik haji juga kayak gini ya senengnya, asiknya serombongan dengan segitu banyak orang untuk mencapai tujuan yang sama.

Anyway, setelah melalui perjalanan yang melelahkan akhirnya kami sampai juga di arena. Whoaaa benar-benar acara musik besar, sungguh penuh orang! Kami melewati pengecekan tiket yang berlapis. Di sini saya mulai mempelajari tahap-tahap pengecekan berlapis dan peraturan konser yang menjadi standar keamanan, antara lain pengecekan barcode tiket, dilarang membawa air minum,dilarang membawa kamera profesional (DSLR). Setelah melalui pengecekan kami masuk ke gang menuju arena. Di gang tersebut isinya para sponsor besar macem sponsor rokok, minuman, dll yang modal banget boothnya. Pake SPG dan orang2 yang berpakaian dan dandan aneh2 gitu lah.

Contoh booth sponsor (eh saya nggak maksud ngiklanin lho)



Setelah menyusuri gang sponsor tadi sampailah kami di lantai pasir Pantai Festival. Whoaaaaaa itu stage utama gede dan terlihat berkilau...duh terharu deh bayangin tar om-om favorit saya bakal main di sana. Selain stage utama ada stage-stage lain untuk band yang less pro/less famous. Hebatnya tuh setiap stage nggak mengganggu kualitas musik stage yang lain, artinya ketika kita menyimak performance stage A maka orang yang di stage B gak bakal terganggu oleh hingar bingar si musisi stage A. Saya masih penasaran mengenai sistem multistage begini, gimana ngaturnya.

Karena Mr.Big masih lama mainnya, maka kami jalan2 aja di sekitar venue. Ada booth yang jual merchandise, musti beli dong biar ada pembuktian di kampung hihi. Saya beli gelang rubber dan tshirt putih bergambar typography nama band-band yang perform di festival itu, trus di tengahnya ada gambar bass yang membentuk X. Uh keren banget dah, apalagi waktu itu saya kebetulan emang posisinya bassist, pas banget. Kelar beli kami ke sebuah arena untuk foto-foto. Jadi bentuknya berupa platform dengan poster karton para band internasional yang perform dalam ukuran yang sesungguhnya (ini apa ya namanya, lupa saya). Uh rame banget yang di Mr.Big, musti antri untuk bisa foto di situ. Sambil nunggu foto-foto deh di karton yang less popular macem Melee dan Secondhand Serenade hihi.

Setelah antri nunggu sukses juga foto di sini. Sayang langit sudah gelap, jadi jelek banget dah foto disorot spotlight gini.

( Kalo itu real-size berarti saya masih segitunya Billy Sheehan dong, padahal dia pose duduk :| )

Puas foto-foto perut kami mengirim sinyal keroncongan, oke lah jalan2 di sponsor-sponsor makanan, nyari makanan. Lupa deh waktu itu beli makan apa, yang jelas selama jalan2 itu kami kadang ketemu artis. Saya juga nggak inget ketemu siapa aja, tapi yang membekas adalah saya ketemu Nissa Omelette, widiiih satu-satunya Bass Heroes cewek, masih muda pula *in awe

Abis makan kami keliling2 stage. Lumayan lah nonton beberapa band lokal, pemanasan sebelum nonton om-om. Di tengah asyik nonton si tante kebelet nyari toilet, ya udah kami mundur nyari-nyari toilet. Namun tante nggak mau toilet berjalan, maka kami ke Segara Cafe di belakang Pantai Festival. Yah lumayan lah sambil menikmati suasana cafe meskipun nggak beli apa2, cuma berdiri di serambinya aja. Ada Ten2Five juga lagi perform, asik deh numpang nonton gratisan gini hihihi.
Kelar dari toilet kami duduk-duduk aja ngemper di teras pintu belakang cafe. Mau jalan ke Pantai Festival capek, pingin agak hening sebentar sambil memandangi hingar bingar keriaan di kejauhan.

View dari emperan kami. Enak sih memandangi acara dari jauh gini.


THEN THE MAGIC HAPPENS. Tiba-tiba ada mobil minivan yang lewat di depan kami. Awalnya sih kami nggak merhatiin, paling-paling mobil cafe yang nurunin barang di loading dock belakang. Eh trus pas pintunya dibuka turunlah sesosok bule gondrong yang tingginya nggak wajar. Om saya yang pertama nyadar, “Itu kok kayak Billy Sheehan.....”. Spontan kami langsung melihat ke arah van. Benar saja, kemudian Eric Martin turun, lalu Pat Torpey, lalu Paul Gilbert, astagaaaaagsfasfaghgahjagjhgas ituuuu om-om turun dari mobil hampir 2 meter di depan kami!!!

Kami nggak percaya, ini seperti mimpi bisa melihat Mr.Big sedekat itu. Beberapa orang lain yang ada di sekitar kami juga tercengang, lalu mulai bersahut-sahutan, “Mr.Big! Mr.Big” Lalu kami semua merubungi mereka, namun tak ada satupun yang berani menyentuh mereka. Saya juga terpana, Subhanallah walhamdulillah, nggak percaya mereka semua berjalan di depan saya. Billy Sheehan is freakin tall! Eric Martin is surprisingly short, Pat Torpey looks muscular as always, and Paul Gilbert...he wears his famous orange overall and he is totally GORGEOUS....ABSOLUTELY HANDSOME! Nampaknya mereka hendak melakukan press conference di Segara Cafe, karena mereka langsung berjalan menuju lorong pintu cafe. Tante saya bilang nggak sabar, “Foto! Foto!” Sambil masih memandangi mereka saya mencet2 hp dalam rangka memotret, gee where is the goddamn camera icon when i need them the most??!!. Namun karena mereka berjalan sangat cepat sebelum saya berhasil memotret mereka sudah sampai di ruangan press conference. Ahhh the magic minutes of my life is gone. Kami semua para fans yang kaget masih terpana, in shock, nggak percaya idola kami baru aja berjalan di depan kami, within our reach. Dan setelah shock saya pulih saya baru sadar kalo waktu itu saya sebenernya lagi pegang camdig, tinggal pencet on dan jepret, namun karena shock jadi bener2 blank. Grrrrrrrrrrrrrr nyeselnya masih brasa sampai hari ini!

Karena mereka sudah masuk ruang press conference yang mana kaca semua tapi penuh banget sama pers dan kamera sehingga kami nggak bisa melongok intip-intip mereka, akhirnya kami pasrah saja dan kembali ke venue. Langkah kami masih lemas, masih nggak percaya akan keajaiban yang baru saja terjadi. Kami saling menertawakan ekspresi terpaku kami tadi, serta kebodohan karena nggak ada satupun dari kami yang memotret..haha.

Mr.Big sudah tiba, namun waktu performance mereka masih lama. Kini giliran Secondhand Serenade yang maju ke tampil di main stage, musisi (band atau solois sih?) genre pop-emo yang lagi happening di kawula muda (entah karena liriknya yang galau abis, vokalnya yang serak-serak emo, atau wajahnya yang lumayan bisa dilihat). Sebelum ke Jakarta saya sudah dengerin albumnya sih, jadi lumayan bisa menikmati dan singalong, nggak kayak om dan tante saya yang betenya setengah mati karena Mr.Big masih lama mainnya.

Singkat cerita yang ditunggu-tunggu akhirnya tampil juga. Awalnya lampu dimatiin dan iklan sponsor dinyalain dan dikencengin banget untuk menarik para penonton. Penonton yang rata-rata udah om-om langsung menyemut  di depan main stage, melongok ke arah stage dan celingukan, kali-kali keliatan bayangan Mr.Big lewat. Kami semua sangat antusias, kami meneriakkan nama Mr.Big untuk memanggil mereka segera.

Suasana makin riuh ketika lampu mulai dinyalakan dan satu persatu para personil muncul di panggung. Oooh that moment, so epic. Kami semua berteriak-teriak kegirangan, saling meneriakkan nama masing-masing personel. Yang bawa kamera dan hp mulai merekam aksi mereka. Saya sendiri pun rasanya sangat gembira, nggak percaya the living legend was finally stand after us, I witnessed them with my very own eyes. Terharu campur senang, brasa kok air mata yang ketahan dan gemuruh di dada ini karena euforia...uwaah. Billy Sheehan dengan celana merah ketatnya yang ngejreng dan bass warna hijau selalu memainkan bassnya dengan sangat aktif, kadang berlari-lari juga. Pat Torpey menggebuk drum dengan bersemangat sambil tak henti-hentinya tersenyum. Paul Gilbert yang ganteng dengan overall orange-nya juga sangat aktif di panggung sambil sesekali menyapa penonton. Demikian pula dengan Eric Martin, my number one vocalist karena suara serak-serak basahnya yang powerful sekaligus seksi, nggak capek-capek nyanyi dan berkomunikasi dengan penonton.

Yah karena kejadiannya 2009 kemarin saya jadi nggak ingat setlistnya..hihi. Yang jelas sih lagu-lagu hitsnya dimainkan semua,macem Wild World, Going Where The Wind Blows. Nggak ketinggalan the mainstream song, To Be With You, lagu yang paling sukses bikin koor massa berjamaah, nggak cewek nggak cowok nggak muda nggak tua. Ada beberapa lagu baru juga sih tapi nggak banyak, syukurlah karena memang saya lebih suka dan familiar dengan lagu-lagu lawasnya.

Konser berlangsung selama 2 jam, nggak brasa akhirnya konser berakhir jam 00.30. Puas tapi capek, setelah encore terakhir (yang bahkan saya gak ingat lagu apa itu, ugh) dan nggak ada acara lempar-lemparan properti sang musisi, kami pun meninggalkan area penonton. Maunya saya sih stay aja di situ soalnya jam 01.00 ada Mew yang saya juga sukaaaaaaa banget, namun karena om dan tante sudah super capek dan tepar terpaksalah kami pulang T________T. Pulang sambil memboyong merchandise konser dan terbayang momen magic bertemu mereka di cafe serta performance mereka yang sangat enerjik dan gak kenal lelah, kami tertawa-tawa sambil membahas konser tersebut hingga esok harinya. A super memorable concert!

EPILOG-------------------------------------------------------------------------------------------

Oh iya di sini juga saya belajar pengalaman konser di festival. Karena memang lokasinya di pantai luas begitu dan konsepnya festival (dan ini kan festival rock), ya jadinya nggak ada tribun atau seated area, semua plong festival gitu alias berdiri di depan panggung. Ya logicnya sih emang harusnya semakin ke depan kita semakin bisa liat tampang si artis, sukur-sukur kalo di akhir konser mereka bagi-bagi pick atau stick drum jadi peluang dapetnya makin besar. Ya kami juga mikir gitu awalnya, kami harus berada di bagian depan-depan biar bisa liat dengan jelas. Namun setelah konser mulai, barulah brasa sumpeknya di area tersebut karena hal-hal sebagai berikut:
  1. Awalnya waktu si artis belum muncul kami semua santai aja berdirinya, nggak terlalu semangat ke depan. Namun saat si artis muncul, SEMUA orang merangsek ke depan, rebutan spot di paling depan, jadilah kami kejepit dan terhimpit orang-orang (baca: om-om). Belum lagi kalo ada yang bau keringat, ada yang teriak-teriak di kuping, ada yang nutupin pake kameranya, beuh.
  2. Badan saya yang pendek ini nggak bisa lihat dengan jelas karena ketutup punggung dan kepala orang di depan. Jadi kalo digambar secara matematis nih sudutnya semakin tumpul, saya makin nggak bisa lihat si artis, apalagi panggung karena range jarak pandang yang sempit.
  3. Gabungan dari poin 1&2, terhimpit dan nggak keliatan apa-apa, dijamin bikin puyeng dan gerah yang lama-lama menimbulkan panic attack dan sesak napas dan pingsan.
Awalnya saya betah-betahin aja di spot saya, kan susah ngedapetin spot agak di depan (nggak mau rugi). Tapi lama-lama saya gak tahan gerahnya, dan ya yang namanya napas itu kebutuhan primer makhluk hidup, akhirnya lama-lama kami mundur teratur deh (tante saya juga mengalami keluhan yang sama soalnya dia lebih pendek dari saya, sedangkan om adalah suami taat istri, begitulah). Awalnya nyeseeeeel banget mundur, saya mikirnya, ‘yaaah goodbye om Eric, jauh-jauhan deh sekarang’. Namun apa yang terjadi, ternyata IT’S COMPLETELY FINE. Kenapa?
  1. Dengan berada di belakang kita bebas menghirup udara segar tanpa harus rebutan oksigen dengan kerumunan orang yang sangat padat. Jauh lebih aman dan nyaman, nggak kejepit, nggak kebau bau badan orang, nggak gerah.
  2. Dengan berasa belakang maka sudutnya makin lancip dan pandangan saya bisa lebih luas rangenya. Saya bisa lihat keseluruhan panggung, nggak fokus ke satu orang aja. Tapi kan kita nggak bisa fokus ke wajah dan cara si musisi memainkan instrumennya? Oh nggak apa-apa kok, karena setiap EO pasti menyediakan big screen, jadi kita masih bisa lihat big screen di kiri kanan. Malah screen ini lebih fokus ke tangan dan wajahnya, jadi bisa keliatan jelas.
  3. Intinya kita justru lebih fokus ke pengalaman bermusik rather than sekaligus berusaha tetep survive dan sadar dan nggak pingsan.


‘Yaaaaaaaa emang kalo gini sih sama aja kita lihat DVD di rumah?’ Eits tetep beda dong. Kalo nonton di rumah kan nggak brasa atmosfer kebersamaan sesama pecinta a particular musician, nggak brasa dentuman sound system gantung (kecuali home theater anda sangat-sangat mahal dan canggih), nggak bisa ikutan teriak-teriak dan merasakan excitement lihat live secara langsung, merasakan dengan indera kita.

‘Ah tetep percuma dong kalau nonton live tapi nggak deket-deket si artis!’ Jadi ya kalau anda ngotot tetep pingin di depan (apalagi garda depan yang berbatasan dengan pagar pengaman), bener-bener siapin stamina yang kuat dan fit (bedanya apa sih). Bayangin aja gimana rasanya didorong ratusan hingga ribuan orang gitu. Apalagi inget, beberapa konser nggak memperbolehkan penonton bawa botol minuman (namun kadang hal ini disebabkan di dalam sudah ada stand sponsor minuman yang harganya berlipat kali lebih mahal -_-). Oh ya satu lagi, kalau anda ngefans banget dan pingin banget di garda depan, anda juga harus datang paling awal karena pastinya rebutan spot sama yang lain. Kalo perlu datang dari pagi buta. Yakin deh, pasti ada juga fans lain yang datang lebih pagi. Brace yourself, the choice is all yours.




Saturday, March 2, 2013

Paradigm Shift


Sabtu sore ini ibu manager mentraktir saya dan mbak keungan bakso yang lewat di depan kantor. Dengan lahap saya dan mbak keuangan makan bakso gratisan ini. Kami bertiga makan sambil nongkrong di teras kantor, membicarakan hal-hal santai mengenai kehidupan pribadi kami di luar pekerjaan.

Kebiasaan bu manager, seusai makan dia selalu merokok satu batang, meskipun usianya sudah tak terbilang muda lagi. Karena tidak bawa korek maka Bu manajer bertanya pada abang bakso, “Bang punya korek nggak?” Si abang spontan jawab “Punya Bu”. Awalnya kami sih diam saja, karena memang tidak ada yang aneh sama sekali dalam pernyataan tadi. Tapi kemudian si abang melanjutkan kata-katanya, “Ya kalo nggak bawa gimana saya mau nyalain kompornya kalo tiba-tiba mati”. Spontan kami bertiga seperti tersadar akan sesuatu, saling melihat satu sama lain dan berujar dengan kompak “Ooo iya ya...”

Apa yang unik dari kejadian ini? Ya, pergeseran paradigma manusia. Setelah abang bakso mengatakan bahwa dia punya korek, tanpa sadar kami bertiga sama-sama berasumsi bahwa si abang adalah juga seorang perokok. Mungkin asumsi ini merembet ke asumsi-asumsi lain yang berasosiasi dengan karakter perokok pada umumnya (ya akuilah, kita semua punya pandangan berbeda terhadap perokok). Namun ketika abang bakso mengatakan dasar mengapa dia membawa korek, seketika asumsi-asumsi kami tadi pupus, digantikan dengan fakta yang kami tangkap bahwa memang ada alasan konkrit tentang mengapa penjual bakso membawa korek. Seketika kami tidak men-judge perangai ataupun kebiasaan si abang bakso, melainkan hanya tersadar akan pentingnya korek baginya sebagai kebutuhan primer. Oleh karena itu kami sama-sama kaget, kami melihat hal baru yang sangat jelas dan logis ini. Sungguh alasan sederhana yang tidak terpikir sama sekali, hingga kami sama-sama terhenyak dan kemudian tersenyum simpul.

Seperti yang dikatakan Stephen Covey di buku 7 Habits of Highly Effective People, fenomena ini disebut ‘paradigm shift’. Paradigma berasal dari Bahasa Yunani yang artinya model, teori, persepsi, asumsi, atau kotak permasalahan yang kita pandang sebagai referensi. Pengalaman “Aha!” tadi ketika kami menyadari alasan yang konkrit di balik sebuah pernyataan, itulah yang disebut ‘paradigm shift’, pergeseran paradigma. Kata ‘paradigm shift’ pertama dipopulerkan oleh Thomas Kuhn dalam buknya yang sangat berpengaruh, The Structure of Scientific Revolutions.

Paradigm shift bisa saja perpindahan paradigma dari positif ke negatif dan vice versa, namun yang terpenting adalah paradigm shift ini membuat kita melihat hal dengan mata yang berbeda. Tentunya hal ini bisa menciptakan perubahan besar pada kita. Paradigma kita, benar ataupun tidak benar, adalah sumber attitude dan perangai kita, dan tentunya akan berdampak pada hubungan kita dengan orang lain.
Ada cerita menarik yang diungkapkan Covey di buku ini mengenai pengalaman paradigm shift-nya. Suatu hari ia naik subway di New York. Orang-orang duduk dengan tenang, hening, suasana yang damai dan tenang. Kemudian ada seorang pria dan anaknya yang masih kecil masuk ke gerbong itu. Anak itu benar-benar tidak bisa diam, ia berteriak-teriak, melempar barang-barang, bahkan merampas koran yang sedang dibaca orang lain. Anehnya, ayahnya justru duduk diam dan tenang sembari memejamkan mata, seolah tidak mengetahui kejadian itu.Tentunya hal ini sangat mengganggu semua orang karena suasana yang damai berubah jadi gaduh.

Tentunya Covey juga marah dan terganggu, bagaimana mungkin sang ayah sama sekali tidak bertanggungjawab akan ulah anaknya. Kemudian ia berbicara pada pria tersebut, “Pak anakmu sungguh mengganggu banyak orang, apakah mungkin jika Anda sedikit mengontrol anak Anda?”. Pria itu kemudian berbicara dengan lembut, “Oh, Anda benar. Kurasa aku memang harus melakukan sesuatu. Kami baru pulang dari rumah sakit, Ibunya baru saja meninggal sejam yang lalu. Aku tidak tahu harus berpikir bagaimana, dan kurasa mereka juga tidak bisa.” Bisakah Anda membayangkan bagaimana perasaan Covey saat itu? Ya, dia mengalami paradigm shift. Dalam sekejap ia melihat secara berbeda, dan karena ia melihat secara berbeda maka ia berpikir secara berbeda, merasakan secara berbeda, bertingkah berbeda. Rasa jengkelnya hilang, seketika ia merasa simpati dan tidak enak hati. “Oh maaf! Bisakah kau ceritakan padaku? Apa yang bisa aku bantu?” Segalanya berubah secara instan.

Sungguh menarik fenomena ini, ketika dalam sekejap segala perilaku kita berubah. Bayangkan jika kita ingin mengubah sifat dan perangai kita ke arah yang lebih baik, hanya dengan mengubah paradigma kita bisa membuat perubahan dalam skala kuantum. Kita bisa mencapai kemajuan besar dengan dimulai dari akar darimana munculnya attitude dan perangai, yaitu menggeser paradigma. Seperti yang dikatakan Thoreau, "For every thousand hacking at the leaves of evil, there is one striking at the root."

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...