Friday, January 27, 2012

Alone

Tulisan lama saya, ketika pertama kali hidup sendiri di ibukota.
Sometimes I still feel the same until now.

---

2 Oktober 2011, 7.24 am


Pagi pertama di kosan. Nggak ada kopi, nggak ada roti goreng hari Minggu pagi, nggak ada Spongebob. Nggak ada mama yang nyuruh nyapu, nggak ada Alif yang masih ngiler tidur, nggak ada pacar yang ngajak sepedaan Minggu pagi.
Dulu saya sangat berharap pingin tinggal di apartemen. Ngendon di situ aja, gak perlu bersosialisasi sama mbak2 kosan. Pegang kunci sendiri, mo pulang persgi terserah saya. Bisa masak semau saya, tidur semau saya, gak ada yang nyuruh-nyuruh. Tapi seperti peribahasa bilang, careful what you wish for. Kini saya benar-benar kerja di ibukota, ngekos dengan kamar mandi di dalam, nggak kenal orang2 di sebelah kamar saya. Kalau saya mati di kamar kos nggak bakal ada yang tau. Kalo saya sakit nggak ada yang beliin obat, nganter ke dokter. Kalo butuh apa-apa nggak ada yang nganter, kendaraan juga nggak pegang jadi nggak bisa main ke mana-mana.
Dulu saya sok-sokan sama diri sendiri, mana mungkin saya bisa ngerasa homesick. Saya sudah sering berlibur sendiri, jalan-jalan ke luar kota—bahkan pulau—sendirian. Namun kali ini berbeda. Saya harus menetap di kota yang asing nan kejam. Sanak saudara rumahnya jauh dari kosan, nggak berasa keberadaannya. Saya menangis malam pertama saya tidur di kos. Bahkan saya menangis ketika perjalanan dalam bus. Saya terngiang kata-kata mama, bahwa mama sekarang cuma berdua dengan Alif. Saya membayangkan pasti mama sangat kesepian, nggak ada yang jadi tempat curhatnya, nggak ada yang disuruh-suruh. Meskipun saya sering males dan ngga nurut, sebenarnya saya respek sama mama, karena mama sangat tangguh hidup tanpa papa setiap harinya. Mama pasti sedih nggak ada yang bikin rumah berisik, mbantuin masak, dan sekedar diajak ngobrol. Alif nggak ada yang ngajak main, nggak ada yang ngajak becanda (yah memang ada Mama sih, tapi nggak mungkin kan Mama ngajak main games atau nonton Spongebob). Mama pasti repot kalau harus memasak tiap pagi dan menjemput Alif, semoga Alif bisa mandiri kelak. Saya sangat merindukan pacar saya tercinta, yang selalu ada buat saya, yang sudah jadi kekasih-sahabat-teman-kakak-segalanya buat saya. Nggak ada yang ngajak makan bakso bakar, ngajak olahraga, nemenin nggarap tugas. Nggak ada papi yang memegang tangan saya, mengelus kepala saya, menyeka air mata saya, dan menghibur saya. Saya merindukan teman-teman, yang selalu ngobrolin masalah kuliah walaupun pada kesel semua kalo mbahas masalah kuliah. Teman-teman yang suka ngajak ngopi, belanja, karaokean, ato sekedar bareng2 ngurus administrasi di kampus. Teman-teman yang selalu bikin saya tertawa lepas, nggak jaga image, bertingkah aneh dan norak di mana-mana. Teman-teman yang jadi ajang curcol, sindir-sindiran, olok-olok, tapi selanjutnya menertawakan kekonyolan kami bersama-sama.
Namun saya harus bersyukur. Kesempatan yang datang pada saya ini sangat langka, nggak semua orang ditawarin kerja, dilamar pekerjaan, bukannya ngelamar pekerjaan. Saya berusaha sugestiin diri sendiri, inilah saatnya saya bisa diet, saya bisa fokus ke kerjaan. Udah bukan waktunya main-main lagi, karaokean, jalan ke mall, ngopi di kafe. Saya harus bersyukur sudah diberi pekerjaan ini. Saatnya saya belajar dan bekerja. Nggak boleh mikir duit pokoknya. Buat apa? Toh saya juga nggak bakal sempet main ke mana-mana. Paling-paling duit abis buat makan dan jajan. Karena nggak ada kompor jadi saya bisa berhenti makan mi instan. Karena nggak ada TV saya bisa fokus ke kerjaan.
Saya harus belajar bahwa hidup itu ada fase ketika kita harus meninggalkan zona nyaman. Meninggalkan orang-orang yang kita cintai dan kehidupan yang nyaman dan serba tersedia untuk hidup mandiri, belajar bertahan hidup di dunia karier yang benar-benar baru bagi saya. Belajar segalanya, nggak cuman arsitektur namun beyond theory scopes, gimana realita di lapangan. Bisa nabung, hidup dari hasil keringat sendiri. Nggak bergantung sama orang tua lagi. Bisa ngasih mama uang kalau mama nggak kuat ngelunasi tagihan kartu kreditnya. Bisa beliin lia dan alif mainan. Bisa banggain papa. Belajar hidup mandiri, nggak bergantung sama pacar. Nggak tergoda jajanan dan main-main ke mana-mana. I wanna live a life from a new perspective. So, go on! Semangat! Yosh!



No comments:

Post a Comment

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...