Setelah di tulisan sebelumnya (yang mana ditulis hampir
setahun yang lalu -__-) saya membahas definisi Healing Garden,
sekarang saya ingin menuis tentang metode desain healing garden. Masih dari
buku yang sama, yaitu Healing Garden: Therapeutic Benefits and Design
Recommendation karya Clare Cooper Marcus dan Marni Barnes tahun 1999, berikut adalah poin-poin yang harus
diperhatikan untuk mendesain healing garden:
- Program setiap area outdoor secara tepat dan fungsional. Mana yang merupakan area aktivitas, mana yang area taman, mana yang jalur aksesibilitas, dan lain-lain.
- Sediakan pilihan bagi para pengguna taman. Nggak semua pasien pingin duduk-duduk aja, ada yang butuh terapi fisiologi jalan di bebatuan, ada yang ingin jalan muter-muter. Nggak semua pasien butuh area yang diteduhi pohon atau shelter, ada pasien yang harus caring alias berjemur matahari sebagai terapinya. Nggak semua staf rumah sakit ingin makan secara berkelompok di meja taman,ada yang ingin duduk aja sendiri di bangku. Sediakan area perkerasan dan rumput, tempat duduk dan tempat jalan-jalan, tempat teduh dan tempat panas, tempat duduk bersama (4 seaters or more) maupun bangku taman biasa, dan lain-lain. Intinya kita harus mengakomodasi berbagai aktivitas pengguna taman dan memberi mereka berbagai pilihan.
- Sediakan setting yang bersifat nurturing, memberi kedamaian, dan memberi rasa familiar. Pengunjung taman butuh tempat untuk mengeluarkan berbagai stres dan tekanan yang dialami di dalam bangunan, oleh karena itu ciptakan suasana taman yang nyaman dengan bantuan vegetasi yang cukup, material yang tidak berbahaya, memberi rasa aman dan betah. Kalau suasana di jalanan sangat ramai, berikan suasana taman yang hening dan damai, misalnya dibantu oleh tanaman sound barrier yang tinggi. Ada studi yang unik, dikatakan bahwa sculpture yang berbentuk normal dan nggak aneh-aneh (misalnya bentuk hewan atau bunga) akan lebih bisa diterima daripada sculpture yang terlalu ‘nyeni’, nyeleneh. Misalnya, ada sebuah taman rumah sakit yang memasang patung berbentuk ekor ikan paus. Bagi seniman atau orang yang ngerti seni ya itu mungkin biasa saja, namun bagi pasien bentuk itu menggambarkan seolah si ikan nyemplung ke dalam tanah, mati, dan tinggal ekornya aja yang nongol. Serem kan, memberi sugesti kematian? Begitu juga dengan sculpture bentuk abstrak yang nggak semua orang ngerti artinya, bentuk itu literally bisa bikin para pasien yang udah sakit lebih pusing lagi karena terpaksa jadi ngliatin dan mikir itu artinya apa. Lebih baik memasang sculpture yang standar, yang bisa diterima khalayak ramai. Sukur-sukur aman, bisa buat mainan anak-anak, menghibur secara visual.
- Pertimbangkan untuk menggunakan material yang familiar dengan lokalitas. Memang sebenarnya kunci utama untuk menyediakan kenyamanan di taman adalah dengan mengimplementasikan kata kunci familiarity. Yah namanya aja family, keluarga (maksa nggak sih? -_-), jadi dengan adanya kedekatan itu bisa menciptakan suasana aman dan nyaman. Penggunaan material yang sesuai dengan lokalitas selain menciptakan perasaan home sweet home juga bagus secara teori green building karena menggunakan material lokal sehingga nggak mengonsumsi karbon tambahan untuk mendatangkan material dari daerah lain.
- Layout taman harus mudah ‘dibaca’. Layout yang terlalu kompleks dan rumit akan menyebabkan beberapa pasien kesulitan untuk membaca petanya, disorientasi. Bisa-bisa malah jadi bingung pintu keluarnya di mana.
- Dalam menciptakan taman di tengah courtyard, pertimbangkan dinding perimeter taman sebagai bagian dari desain taman. Inner courtyard merupakan tantangan tersendiri karena adanya tembok yang membatasi pandangan dan gerak pengguna taman. Oleh karena itu dinding harus difungsikan, didesain juga agar selaras dengan desain taman. Misalnya, dinding dicat mural graffiti gambar-gambar yang menarik dan memberi motivasi, di-finish dengan waterwall yang memberi efek gemericik yang menenangkan, atau dijadikan greenwall yang menambah oksigen. Sekarang bikin greenwall nggak susah kok, bisa hubungi kantor saya (ehem promosi di blog sendiri boleh dong ;))
- Ciptakan subspaces. Ruang dalam ruang. Dalam area tempat duduk umum,ciptakan beberapa area duduk yang lebih private karena beberapa pengunjung kadang ingin area private untuk meditasi atau simply just going away from all the noises out there.
- Ciptakan area bersama/central gathering space. Tempat sosial seperti ini baik untuk para pasien, pengunjung, maupun karyawan yang ingin bersosialisasi. Bagi pengelola rumah sakit area ini juga bisa dikomersialisasikan, misalnya untuk pesta ulang tahun pasien, acara gathering para staff, dan lain-lain.
- Tambahkan entry element. Pintu masuk yang jelas dan baik akan membuat orang merasa disambut, merasa terundang untuk memasuki taman.
- Ciptakan a sense of enclosure. Rasa perlindungan ini sangat penting karena orang yang ingin di-healing harus dibuat merasa aman. Kesan perlindungan ini bisa diciptakan dengan adanya tanaman barrier pembatas dengan area publik (misalnya tempat parkir di luar), atau area duduk yang diberi pembatas semak berbunga agar mereka merasa aman dan nyaman duduk meditasi di bangku tersebut.
- Sediakan overhead protection. Seperti yang dikemukakan di poin nomor 3, pengunjung perlu tempat teduh (apalagi kalau negara tropis yang panas gini yang penduduknya lebih suka ngadem daripada panas-panasan). Peneduh ini nggak cuma berupa pohon rindang, kalo area terbatas bisa juga dengan payung atau atap kain tensile.
- Sediakan panoramic view. Ya namanya juga taman, harapannya kan bisa liat pemandangan yang nggak bisa diliat di dalam ruangan. Pilih lokasi yang baik yang memiliki view baik, misalnya ke arah pegunungan. Gimana kalau rumah sakitnya di tengah kota yang semrawut yang malah bikin pusing kalo liat ke luar? Ya ciptakan sendiri view tersebut dengan adanya point of interest yang bagus, misalnya dengan jajaran tanaman berbunga, water feature, atau sculpture yang menarik.
- Pertimbangkan view bagi pengguna kursi roda atau gurneys. Harus diukur sedemikian rupa sehingga dengan ketinggian mata tertentu masih bisa dapat view yang bagus.
- Desain taman sehingga orang di dalam ruangan yang memandang ke taman bisa merasa seolah-olah dia turut berada di taman tersebut. Nggak semua orang berkesempatan ke luar menikmati taman, kadang mereka hanya bisa memandang dari jendela. Oleh karena itu jangan tutupi view mereka, beri mereka point of interest sehingga taman tetap bisa dinikmati dan effectively healing meskipun hanya dinikmati secara visual.
- Ruang interior dan eksterior harus saling melengkapi satu sama lain. Berikan aksesibilitas yang baik, tema yang masih harmonis dan ‘nyambung’ sehingga ada keterkaitan antara keseluruhan arsitektur bangunan secara holistik, baik ruang luar maupun ruang dalam.
No comments:
Post a Comment