Friday, November 2, 2012

My Concerts Experience (1)


Ada satu ‘gelar’ yang disematkan oleh teman-teman saya kepada saya, yaitu ‘Ratu Konser’. Bagi orang pada umumnya yang nggak biasa nonton memang terdengar seolah saya ini tukang foya-foya yang doyan menghabiskan ratusan ribu hanya untuk dengerin musik selama 2-3 jam, namun dari sudut pandang musisi ataupun penikmat musik hal ini sangat lumrah, sebagai bentuk penghargaan terhadap artis ataupun simply sebagai hiburan karena bisa menonton artis idola kita secara langsung.

Saya memang lebih suka menonton konser artis luar, ya karena memang saya cenderung terinfluence oleh musisi luar. Selain itu jarang-jarang artis luar menyempatkan diri mampir ke Indonesia yang jauh di belahan tengah bumi, nggak suka beli CD original, dan sarat isu terorisme dan anti barat, sehingga momen ketika mereka datang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Yah bukannya nggak menghargai musik lokal, cuma memang kebetulan saya belum mempunyai satu artis idola dari dalam negeri. Satu-satunya musisi lokal yang konsernya saya datangi berkali-kali Cuma Gigi, karena memang musiknya yang dahsyat dan aksi panggung sang frontman Armand Maulana memang sungguh luar biasa.

Di artikel pembuka ini saya bahas konser lokal dulu ya. Pengalaman nonton konser lokal saya sih kebetulan hanya konser festival biasa, bukan konser eksklusif di ballroom hotel atau gedung konser. Ini pun juga sebenarnya bukan the real solo concert, hanya performance sebagai penutup rangkaian acara. Namun karena memang lagu yang dimainkan cukup banyak (namun tidak sebanyak konser pada umumnya), tetap saya istilahkan sebagai konser. Konser Gigi yang saya tonton juga hanya di Malang.

Pertama kali saya nonton Gigi yaitu di Dome Universitas Muhammadiyah, waktu saya masih kelas 3 SMA. Konser itu adalah penutup rangkaian berbagai lomba dan acara untuk anak SMA yang diadakan salah satu provider telekomunikasi. Karena masih cupu waktu itu saya nonton konser ditemani mama hahaha..padahal yang lain asik-asik aja nonton sama teman-temannya atau pacarnya. Di situ juga pertama kali saya tahu karakter orang nonton konser, yaitu pada umumnya datang bergerombol dengan teman-teman, pakai baju-baju gaul yang nggak saya banget, dan terkesan sok asik gitu lah. Intinya saya ngerasa makin cupu..hahaha.

Ini juga pertama kali saya tahu gimana tata cara nonton konser. Jadi awalnya kudu nyari pintu masuk kita, karena dome UMM punya 4 pintu masuk, tapi hanya 1 pintu masuk yang dibuka untuk masuk. Kalau sudah ketemu berikutnya kita harus antri untuk verifikasi tiket dan KTP kita. Karena saya adalah peserta lomba maka saya cukup menunjukkan form daftar ulang. Dan...jreengg! Inilah yang paling bikin pusing. Antriannya panjang dan berdesak-desakan, kayak antri sembako. Semua pingin dapat tempat paling depan, jadilah pada nggak sabar pingin masuk. Pokoknya nggak bisa nafas deh, kasian mama saya juga yang udah nggak muda lagi. Apalagi saya juga pendek, nggak kayak penonton lain yang banyak cowok, mungkin karena ini Gigi yang punya lebih banyak penggemar cowok daripada cewek.

Yah pada akhirnya kami berhasil masuk dengan selamat..fyuh. Karena dome itu punya lantai festival dan tribun jadi ada 2 pilihan untuk penonton. Karena saya nonton dengan mama otomatis kami naik ke tribun, nggak mungkin mau berdesak-desakan lagi dengan orang-orang di lantai festival. Memang sepertinya di festival sih asyik karena lebih dekat dengan sang artis, tapi berkaca pada pengalaman antre yang berdesakan gitu..hmmm mungkin memang lebih aman dan nyaman duduk di tribun.

Hm karena sudah lama sekali kejadiannya (wew saya kelas 3 SMA berapa tahun yang lalu yah -__-) saya nggak ingat gimana urutan konsernya ataupun setlist lagu-lagunya. Pokoknya seperti biasa, pembukanya adalah pidato-pidato dan pengumuman pemenang berbagai lomba. Penampilan Gigi adalah penutup seluruh rangkaian lomba, yang paling ditunggu-tunggu terutama bagi penonton biasa yang bukan peserta lomba..haha. Yah yang bisa saya ingat pokoknya THEY ARE SUCH AN AWESOME MUSICIAN AND PERFORMERS. Nggak Cuma musiknya yang keren, melainkan juga aksi panggungnya. Armand yang super hiperaktif dan bikin panas gedung dan Thomas yang sesekali jingkrak-jingkrak juga ala bassist mampu mengimbangi Budjana yang super kalem tapi cadas gitarnya. Sang drummer Hendy juga atraktif sambil headbanging dengan rambut gondrongnya.

Saat lagu-lagu yang menghentak dimainkan mereka mampu membawakan dengan sangat bersemangat hingga seluruh penonton di lantai festival ikut jingkrak-jingkrak, bahkan penonton di tribun juga ikut berdiri dan sesekali bertepuk tangan atau headbanging juga. Armand yang doyang lari ke sana ke mari sangat bersemangat mengajak penonton ikut memanaskan lantai festival. Sesekali ia menyodorkan mic pada penonton dan mengajak penonton meneriakkan lagu-lagu mereka dengan semangat.

Saat lagu mellow dimainkan dan lampu sedikit dipadamkan penonton dengan kompaknya menyalakan layar hp atau pemantik mereka dan sama-sama menggerakkan tangan ke kanan dan kiri. Gigi juga bertindak lebih kalem, cenderung syahdu dan romantis. Yah pokoknya bagi para pasangan-pasangan pasti memorable banget deh kalo momen lagu mellow gini. Saat lagu kembali menghentak mereka mampu mengembalikan emosi penonton untuk jadi ceria kembali. Mungkin ini memang yang diebut skill seorang entertainer, nggak cuma musisi yang berkutat di irama dan lirik.

Penampilan mereka usai setelah kira-kira 1 jam.Memang singkat nggak seperti konser pada umumnya karena penampilan mereka adalah rangkaian event, bukan konser tunggal. Namun waktu yang cukup singkat itu menjadi kenangan yang indah bagi saya (tsah..) sekaligus menjadi pengalaman bener-bener nonton artis main di panggung. Meskipun so much hardships di awal ketika antre dan tetek bengek administrasi, penampilan musisi yang membawakan musik mereka dengan sempurna menjadi suatu bentuk lain yang sama sekali berbeda dengan format musik yang selama ini saya denger: hanya audio. Turns out this audio-visual of music experience is sooo much fun.  The moment that leads me to concert addiction!


No comments:

Post a Comment

Book Review: Outliers

Sudah lama buku ini masuk dalam wish list saya ketika saya mendengarkan salah satu episode siniar Malcolm Gladwell berjudul Revisionist Hist...