Ada satu ‘gelar’ yang disematkan oleh teman-teman saya
kepada saya, yaitu ‘Ratu Konser’. Bagi orang pada umumnya yang nggak biasa
nonton memang terdengar seolah saya ini tukang foya-foya yang doyan menghabiskan
ratusan ribu hanya untuk dengerin musik selama 2-3 jam, namun dari sudut
pandang musisi ataupun penikmat musik hal ini sangat lumrah, sebagai bentuk
penghargaan terhadap artis ataupun simply sebagai hiburan karena bisa menonton
artis idola kita secara langsung.
Saya memang lebih suka menonton konser artis luar, ya karena
memang saya cenderung terinfluence oleh musisi luar. Selain itu jarang-jarang
artis luar menyempatkan diri mampir ke Indonesia yang jauh di belahan tengah
bumi, nggak suka beli CD original, dan sarat isu terorisme dan anti barat,
sehingga momen ketika mereka datang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Yah
bukannya nggak menghargai musik lokal, cuma memang kebetulan saya belum
mempunyai satu artis idola dari dalam negeri. Satu-satunya musisi lokal yang
konsernya saya datangi berkali-kali Cuma Gigi, karena memang musiknya yang
dahsyat dan aksi panggung sang frontman Armand Maulana memang sungguh luar
biasa.
Di artikel pembuka ini saya bahas konser lokal dulu ya.
Pengalaman nonton konser lokal saya sih kebetulan hanya konser festival biasa,
bukan konser eksklusif di ballroom hotel atau gedung konser. Ini pun juga sebenarnya bukan the real solo concert, hanya performance sebagai penutup rangkaian acara. Namun karena memang lagu yang dimainkan cukup banyak (namun tidak sebanyak konser pada umumnya), tetap saya istilahkan sebagai konser. Konser Gigi yang
saya tonton juga hanya di Malang.
Pertama kali saya nonton Gigi yaitu di Dome Universitas
Muhammadiyah, waktu saya masih kelas 3 SMA. Konser itu adalah penutup rangkaian
berbagai lomba dan acara untuk anak SMA yang diadakan salah satu provider
telekomunikasi. Karena masih cupu waktu itu saya nonton konser ditemani mama
hahaha..padahal yang lain asik-asik aja nonton sama teman-temannya atau
pacarnya. Di situ juga pertama kali saya tahu karakter orang nonton konser,
yaitu pada umumnya datang bergerombol dengan teman-teman, pakai baju-baju gaul
yang nggak saya banget, dan terkesan sok asik gitu lah. Intinya saya ngerasa
makin cupu..hahaha.
Ini juga pertama kali saya tahu gimana tata cara nonton
konser. Jadi awalnya kudu nyari pintu masuk kita, karena dome UMM punya 4 pintu
masuk, tapi hanya 1 pintu masuk yang dibuka untuk masuk. Kalau sudah ketemu
berikutnya kita harus antri untuk verifikasi tiket dan KTP kita. Karena saya adalah peserta lomba maka saya cukup menunjukkan form daftar ulang. Dan...jreengg! Inilah yang
paling bikin pusing. Antriannya panjang dan berdesak-desakan, kayak antri
sembako. Semua pingin dapat tempat paling depan, jadilah pada nggak sabar
pingin masuk. Pokoknya nggak bisa nafas deh, kasian mama saya juga yang udah
nggak muda lagi. Apalagi saya juga pendek, nggak kayak penonton lain yang
banyak cowok, mungkin karena ini Gigi yang punya lebih banyak penggemar cowok
daripada cewek.
Yah pada akhirnya kami berhasil masuk dengan selamat..fyuh. Karena
dome itu punya lantai festival dan tribun jadi ada 2 pilihan untuk penonton.
Karena saya nonton dengan mama otomatis kami naik ke tribun, nggak mungkin mau
berdesak-desakan lagi dengan orang-orang di lantai festival. Memang sepertinya
di festival sih asyik karena lebih dekat dengan sang artis, tapi berkaca pada
pengalaman antre yang berdesakan gitu..hmmm mungkin memang lebih aman dan
nyaman duduk di tribun.
Hm karena sudah lama sekali kejadiannya (wew saya kelas 3
SMA berapa tahun yang lalu yah -__-) saya nggak ingat gimana urutan konsernya
ataupun setlist lagu-lagunya. Pokoknya seperti biasa, pembukanya adalah
pidato-pidato dan pengumuman pemenang berbagai lomba. Penampilan Gigi adalah
penutup seluruh rangkaian lomba, yang paling ditunggu-tunggu terutama bagi penonton biasa yang bukan peserta lomba..haha. Yah yang bisa saya ingat pokoknya THEY ARE SUCH AN AWESOME
MUSICIAN AND PERFORMERS. Nggak Cuma musiknya yang keren, melainkan juga aksi
panggungnya. Armand yang super hiperaktif dan bikin panas gedung dan Thomas
yang sesekali jingkrak-jingkrak juga ala bassist mampu mengimbangi Budjana yang
super kalem tapi cadas gitarnya. Sang drummer Hendy juga atraktif sambil
headbanging dengan rambut gondrongnya.
Saat lagu-lagu yang menghentak dimainkan mereka mampu
membawakan dengan sangat bersemangat hingga seluruh penonton di lantai festival
ikut jingkrak-jingkrak, bahkan penonton di tribun juga ikut berdiri dan
sesekali bertepuk tangan atau headbanging juga. Armand yang doyang lari ke sana
ke mari sangat bersemangat mengajak penonton ikut memanaskan lantai festival.
Sesekali ia menyodorkan mic pada penonton dan mengajak penonton meneriakkan
lagu-lagu mereka dengan semangat.
Saat lagu mellow dimainkan dan lampu sedikit dipadamkan
penonton dengan kompaknya menyalakan layar hp atau pemantik mereka dan
sama-sama menggerakkan tangan ke kanan dan kiri. Gigi juga bertindak lebih kalem,
cenderung syahdu dan romantis. Yah pokoknya bagi para pasangan-pasangan pasti
memorable banget deh kalo momen lagu mellow gini. Saat lagu kembali menghentak
mereka mampu mengembalikan emosi penonton untuk jadi ceria kembali. Mungkin ini
memang yang diebut skill seorang entertainer,
nggak cuma musisi yang berkutat di irama dan lirik.
Penampilan mereka usai setelah kira-kira 1 jam.Memang
singkat nggak seperti konser pada umumnya karena penampilan mereka adalah
rangkaian event, bukan konser tunggal. Namun waktu yang cukup singkat itu
menjadi kenangan yang indah bagi saya (tsah..) sekaligus menjadi pengalaman
bener-bener nonton artis main di panggung. Meskipun so much hardships di awal ketika antre dan tetek bengek
administrasi, penampilan musisi yang membawakan musik mereka dengan sempurna
menjadi suatu bentuk lain yang sama sekali berbeda dengan format musik yang
selama ini saya denger: hanya audio. Turns
out this audio-visual of music experience is sooo much fun. The moment that leads me to concert addiction!
No comments:
Post a Comment