Sabtu sore ini ibu manager mentraktir saya dan mbak keungan
bakso yang lewat di depan kantor. Dengan lahap saya dan mbak keuangan makan
bakso gratisan ini. Kami bertiga makan sambil nongkrong di teras kantor,
membicarakan hal-hal santai mengenai kehidupan pribadi kami di luar pekerjaan.
Kebiasaan bu manager, seusai makan dia selalu merokok satu
batang, meskipun usianya sudah tak terbilang muda lagi. Karena tidak bawa korek
maka Bu manajer bertanya pada abang bakso, “Bang punya korek nggak?” Si abang
spontan jawab “Punya Bu”. Awalnya kami sih diam saja, karena memang tidak ada
yang aneh sama sekali dalam pernyataan tadi. Tapi kemudian si abang melanjutkan
kata-katanya, “Ya kalo nggak bawa gimana saya mau nyalain kompornya kalo
tiba-tiba mati”. Spontan kami bertiga seperti tersadar akan sesuatu, saling
melihat satu sama lain dan berujar dengan kompak “Ooo iya ya...”
Apa yang unik dari kejadian ini? Ya, pergeseran paradigma
manusia. Setelah abang bakso mengatakan bahwa dia punya korek, tanpa sadar kami
bertiga sama-sama berasumsi bahwa si abang adalah juga seorang perokok. Mungkin
asumsi ini merembet ke asumsi-asumsi lain yang berasosiasi dengan karakter
perokok pada umumnya (ya akuilah, kita semua punya pandangan berbeda terhadap
perokok). Namun ketika abang bakso mengatakan dasar mengapa dia membawa korek,
seketika asumsi-asumsi kami tadi pupus, digantikan dengan fakta yang kami
tangkap bahwa memang ada alasan konkrit tentang mengapa penjual bakso membawa
korek. Seketika kami tidak men-judge perangai ataupun kebiasaan si abang bakso,
melainkan hanya tersadar akan pentingnya korek baginya sebagai kebutuhan primer. Oleh karena itu kami sama-sama kaget, kami melihat hal baru yang sangat jelas dan logis ini. Sungguh alasan sederhana yang tidak
terpikir sama sekali, hingga kami sama-sama terhenyak dan kemudian tersenyum
simpul.
Seperti yang dikatakan Stephen Covey di buku 7 Habits of
Highly Effective People, fenomena ini disebut ‘paradigm shift’. Paradigma berasal dari Bahasa Yunani yang artinya
model, teori, persepsi, asumsi, atau kotak permasalahan yang kita pandang
sebagai referensi. Pengalaman “Aha!” tadi ketika kami menyadari alasan yang konkrit
di balik sebuah pernyataan, itulah yang disebut ‘paradigm shift’, pergeseran paradigma. Kata ‘paradigm shift’ pertama dipopulerkan oleh Thomas Kuhn dalam buknya
yang sangat berpengaruh, The Structure of Scientific Revolutions.
Paradigm shift
bisa saja perpindahan paradigma dari positif ke negatif dan vice versa, namun yang terpenting adalah
paradigm shift ini membuat kita
melihat hal dengan mata yang berbeda. Tentunya hal ini bisa menciptakan
perubahan besar pada kita. Paradigma kita, benar ataupun tidak benar, adalah
sumber attitude dan perangai kita, dan tentunya akan berdampak pada hubungan
kita dengan orang lain.
Ada cerita menarik yang diungkapkan Covey di buku ini
mengenai pengalaman paradigm shift-nya.
Suatu hari ia naik subway di New York. Orang-orang duduk dengan tenang, hening,
suasana yang damai dan tenang. Kemudian ada seorang pria dan anaknya yang masih
kecil masuk ke gerbong itu. Anak itu benar-benar tidak bisa diam, ia
berteriak-teriak, melempar barang-barang, bahkan merampas koran yang sedang
dibaca orang lain. Anehnya, ayahnya justru duduk diam dan tenang sembari
memejamkan mata, seolah tidak mengetahui kejadian itu.Tentunya hal ini sangat
mengganggu semua orang karena suasana yang damai berubah jadi gaduh.
Tentunya Covey juga marah dan terganggu, bagaimana mungkin sang
ayah sama sekali tidak bertanggungjawab akan ulah anaknya. Kemudian ia
berbicara pada pria tersebut, “Pak anakmu sungguh mengganggu banyak orang,
apakah mungkin jika Anda sedikit mengontrol anak Anda?”. Pria itu kemudian
berbicara dengan lembut, “Oh, Anda benar. Kurasa aku memang harus melakukan
sesuatu. Kami baru pulang dari rumah sakit, Ibunya baru saja meninggal sejam
yang lalu. Aku tidak tahu harus berpikir bagaimana, dan kurasa mereka juga
tidak bisa.” Bisakah Anda membayangkan bagaimana perasaan Covey saat itu? Ya,
dia mengalami paradigm shift. Dalam
sekejap ia melihat secara berbeda,
dan karena ia melihat secara berbeda maka ia berpikir secara berbeda, merasakan
secara berbeda, bertingkah berbeda.
Rasa jengkelnya hilang, seketika ia merasa simpati dan tidak enak hati. “Oh
maaf! Bisakah kau ceritakan padaku? Apa yang bisa aku bantu?” Segalanya berubah
secara instan.
Sungguh menarik fenomena ini, ketika dalam sekejap segala
perilaku kita berubah. Bayangkan jika kita ingin mengubah sifat dan perangai kita ke arah yang lebih
baik, hanya dengan mengubah paradigma kita bisa membuat perubahan dalam skala
kuantum. Kita
bisa mencapai kemajuan besar dengan dimulai dari akar darimana munculnya
attitude dan perangai, yaitu menggeser paradigma. Seperti yang dikatakan Thoreau, "For every thousand hacking at the leaves of evil, there is one striking at the root."
Jadi inget da yang bilang kalau semuanya tergantung sudut pandang kita, melihat dari jendela mana, sort of.
ReplyDeletethat's why, try different perspective... *takdungces
ReplyDelete